Kurang tidur dinilai memiliki jalur hubungan yang jauh lebih agresif dan langsung dalam merusak tubuh, lantaran memicu lonjakan hormon stres, mengaktifkan peradangan dalam darah, serta meruntuhkan sistem imun seketika.
Sementara di sisi lain, kebiasaan tidur yang terlalu lama disinyalir bukan menjadi penyebab langsung kerusakan sel, melainkan lebih berperan sebagai sinyal atau indikator awal bahwa di dalam tubuh seseorang sebenarnya sudah ada masalah kesehatan laten yang sedang berjalan.
BACA JUGA: Tips Sehat, 4 Aktivitas Saat Bangun Tidur Buat ‘Good Mood’ Seharian
BACA JUGA: Tips Sehat, 5 Cara Atasi Susah Tidur Dalam Islam, Ikuti Cara Rasulullah SAW
Batasan Studi yang Perlu Dicermati
Meski temuan ini membawa angin segar bagi dunia kesehatan, para peneliti tetap memberikan catatan kritis yang bijak bagi masyarakat luas agar tidak salah dalam menginterpretasikan data.
Studi ini sejatinya masih bersifat observasional, yang artinya baru berhasil memetakan adanya hubungan erat atau korelasi kuat antarkomponen, dan belum sampai pada tahap membuktikan secara mutlak bahwa durasi tidur menjadi penyebab tunggal yang menyetir cepat lambatnya penuaan seseorang.
Ditambah lagi, variabel durasi tidur yang digunakan dalam riset ini masih bersandar pada ingatan dan laporan mandiri dari para peserta, sebuah metode yang secara teoretis masih menyimpan celah kesalahan jika dibandingkan dengan pengukuran kualitas tidur yang dilakukan menggunakan alat sensor objektif di laboratorium.







