Mengenal Dzikir, Ikhlas Mengerjakannya Menumbuhkan Kecintaan pada Allah

Ini menandakan bahwa dzikir inilah secara hakikat yang menghubungkan kita dengan Allah. Dan Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya, seperti disampaikan Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 41-42:
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat (Nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”

Allah telah mengajarkan kepada kita bahwa mengingat Allah adalah jalan kita menyembah Allah. Karenanya ibadah formal yang terikat dengan ritual seperti shalat, puasa, zakat, dan haji tidak dilakukan setiap saat. Tetapi ada ibadah yang bisa terus dilakukan sepanjang hidup kita, sepanjang hari, setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik, yakni berdzikir kepada Allah.

Ranah Dzikir kepada Allah

Berdzikir kepada Allah tidak hanya terikat dengan dzikir yang formal seperti mengucapkan kalimat tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir: subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, Allahu akbar. Ini adalah dzikir dengan lisan.

Seperti kita ketahui bahwa dzikir itu terdapat beberapa ranah. Yakni ranah qalbu, ranah aqal, ranah nafs, dan ranah fisik.

Pertama, dzikir di ranah qalbu adalah mengingat Allah cukup dalam hati dan ini menenangkan. Seperti termaktub dalam QS. Ar-Ra’d: 28:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”