Bisa dibayangkan jika Allah memberikan perintah shalat 50 kali dalam 24 jam, tentu bisa dihitung dalam sehari semalam itu manusia wajib melaksanakan shalat di setiap setengah jam.
Dengan shalat 50 kali dalam sehari semalam, maka sangat sempit waktu untuk berinteraksi dengan sesama manusia, untuk bermuamalah, untuk kehidupan dunianya.
Karena itu tidak heran jika kemudian ada anggapan bahwa jeda hidup manusia hanya untuk menunggu waktu untuk shalat saja.
Lebih jauh, jika dikurangi waktu tidur, misalnya 8 jam sehari. Maka tersisa waktu 16 jam untuk shalat sehingga bisa jadi setiap 15 menit manusia akan melaksanakan shalat.
Betapa semakin sempit atau bahkan tidak ada waktu untuk berkegiatan selain shalat. Benar-benar jeda waktu antar shalat adalah waktu untuk menunggu shalat.
Jika Allah menghendaki maka manusia wajib melaksanakan shalat 50 waktu dalam sehari semalam.
Namun perintah shalat itu sebenarnya adalah 5 waktu. Dan Allah menyampaikan bahwa setiap shalat ini bernilai sepuluh sehingga tetap bernilai lima puluh waktu dalam sehari semalam. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada manusia. Dan Allah yang paling memahami sifat dan karakteristik manusia.
Tentu orang akan mengajukan pertanyaan selanjutnya. Di luar waktu pelaksanaan ibadah ritual shalat lima kali itu, apakah kita tidak menyembah Allah?
Pertanyaan tersebut karena berangkat dari cara berfikir yang keliru. Bahwa menyembah Allah hanya dengan ritual shalat saja.







