Bahwa keikhlasan itu akan terjadi ketika orang memahami hakikat mengapa kita hidup di dunia. Dalam QS. Al-Bayyinah: 5 disebutkan:
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan agar mereka mendirikan salat serta menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.”
Dengan pemahaman tersebut orang akan sering mengingat Allah, yang bermakna ibadah kepada Allah dengan sebanyak banyaknya.
Orang yang demikian maka dalam dirinya akan muncul kebiasaan atau yang dalam bahasa modern disebut habit yang habit ini akan menumbuhkan benih-benih kerinduan kepada Allah.
Bahwa cinta itu akan tumbuh bersamaan dengan pemahaman kita tentang tujuan kita hidup.
Kebiasaan kita untuk senantiasa mengingat Allah akan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah. Dalam pepatah jawa disebutkan bahwa Trisna jalaran saka kulina.
Bahwa kebiasaan kita mengingat Allah maka akan menumbuhkan cinta dalam diri kita, sehingga kita akan bisa dengan ikhlas dengan jiwa yang tenang menjalani kehidupan dunia ini.
Dengan keikhlasan ini kita akan ridha kepada Allah dan jika kita Ridha kepada Allah maka Allah akan ridha kepada kita (radhiayatan mardiyah).
Seperti termaktub QS. Al-Fajr ayat 27-30, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Jika kita ridha kepada Allah dan Allah ridha kepada kita, dan kita meninggal dengan cara demikian, maka telah tuntaslah misi kita di dunia.







