Mengenal Dzikir, Ikhlas Mengerjakannya Menumbuhkan Kecintaan pada Allah

Jika ditelaah, berdzikir dengan lisan ini adalah adalah dzikir yang dilakukan oleh dua ranah yakni dengan hati dan juga jika mampu dengan fikiran kita. Karena lisan kita mengucap kalimat Allah, akal kita memahami/merenungi maknanya.

Dzikir dalam ranah fisik lainnya adalah dengan shalat. Dalam shalat hati kita berdzikir kepada Allah; Lisan kita berdzikir dengan bacaan-bacaan shalat; Akal kita memahami apa yang kita baca dalam Shalat; Dan tubuh kita pun bergerak dalam gerakan berdiri, rukuk, dan sujud sebagai tanda berdzikir kepada Allah.

Pada ranah gerakan ini, dzikir lebih kompleks yakni mulai dari qalbu, akal, nafs, dan jasad yakni lisan dan gerakan.

Berdzikir dengan gerakan ini tidak hanya sebatas dalam gerakan shalat. Segala bentuk gerakan manusia yang diniati sebagai bentuk dzikir kepada Allah yang dilandasi dengan syariah yang benar maka akan bernilai ibadah.

Karena Rasulullah sendiri mengajarkan bahwa segala perbuatan manusia tergantung niatnya.

Islam mengajarkan agar setiap perbuatan hendaknya diniatkan untuk beribadah/berdzikir kepada Allah dengan diawali dengan basmalah. Perbuatan manusia akan dipertanggungjawaban berdasarkan niatnya tersebut.

Pada ranah jasad, tubuh berdzikir dengan menjaga kesucian. Bahwa ada relasi antara fisik dan ruh. Fisik yang suci akan mencerminkan kesucian ruh.

Dalam wudhu, membasuh anggota tubuh secara syar’i akan berimplikasi pada kesucian internal sehingga menjadi syarat untuk bisa melaksanakan ibdah ritual seperti shalat.