WARTABANJAR.COM, TENGGARONG – Saat banyak pelajar memasuki tahun ajaran 2026/2027 dengan gembira, beda halnya dengan pelajar di Desa Santan RT 18 Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Bocah-bocah itu harus mempertaruhkan nyawa demi masa depan.

Setiap hari, sejumlah murid berseragam SD bergantian menyeberangi sungai menggunakan kereta gantung sederhana, yang digerakkan secara manual dengan menarik tali.

Akses tersebut menjadi jalur utama ke RT 09 untuk menuju sekolah masing-masing.

Kereta itu hanya rangka dan lantai papan tanpa pagar.

Padahal sungai yang beberapa meter di bawah jembatan dikenal merupakan habitat buaya dan berarus deras.

Menarik tali sling kereta gantung secara manual setiap hari meninggalkan jejak fisik pada sejumlah anak. Tangan menjadi kapalan atau menebal.

Sudah hampir 10 tahun terakhir, warga memilih menggunakannya karena dapat memangkas waktu tempuh secara signifikan.

Baca Juga: Lumba-lumba yang Tersesat di Sungai Mahakam Kaltim Ditemukan Mati di Kukar

Baca Juga: Kalsel Masuk 5 Besar Provinsi dengan PHK Terbanyak Januari-Juni 2026, Terbesar di Luar Jawa

“Kalau melalui jalan bisa sekitar satu jam. Tapi kalau lewat jembatan ini hanya sekitar 15 menit,” kata Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto.

Menurut Heri, jembatan itu digunakan pelajar mulai jenjang SD hingga SMA.

Jembatan tersebut dibangun sekitar 10 tahun lalu sebagai akses pekerja perkebunan.

Namun setelah aktivitas perkebunan berhenti karena kawasan tersebut masuk hutan lindung, RT 18 berkembang menjadi permukiman sehingga jembatan beralih fungsi menjadi akses harian warga.

Selama ini, warga bergotong royong memperbaiki bagian yang rusak agar tetap aman digunakan.

Perkirakan Heri, pembangunan jembatan permanen membutuhkan dana sekitar Rp500 juta.

Sementara dana desa yang diterima setiap tahun sekitar Rp1 miliar namun harus dibagi untuk berbagai kebutuhan lain, mulai dari operasional posyandu, perbaikan jalan lingkungan, pengadaan ATK, hingga program di sekitar 20 RT.

Karena itu, pihaknya berharap pemerintah daerah maupun pusat turun tangan.

Apalagi pihaknya telah beberapa kali mengusulkan pembangunan jembatan melalui pemerintah kecamatan.