WARTABANJAR.COM, TENGGARONG– Pencarian lumba-lumba hidung botol laut Indo-Pasifik yang tersesat di Sungai Mahakam hingga ke perairan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, tak lagi dilakukan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI).

Mamalia yang terekam kamera seorang awak tugboat di sekitar Jembatan Kota Bangun, Kukar, pada Rabu (15/7/2026) lalu, ditemukan mengapung mati.

Gambar kematian ikan bernama Latin Tursiops truncatus itu di perairan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara ini, menyebar cepat pada Sabtu (18/7/2026).

Terlebih sedari awal keberadaan lumba-lumba itu mendapat perhatian masyarakat.

Hal ini karena Sungai Mahakam bukan habitat lumba-lumba melainkan pesut.

Akun Instagram @info_kukar menuliskan pesan, "Kabar Duka! Lumba-Lumba yang tersesat di perairan sungai Mahakam dan sempat terlihat di perairan Samarinda hingga Kecamatan Kota Bangun ditemukan dalam kondisi mati siang tadi, Sabtu (18/7/2026) di perairan Kecamatan Loa Kulu".

Sedangkan akun Instagram @hallokalimantan menulis, "Perjalanan seekor lumba-lumba hidung botol yang sempat mengundang perhatian warga di sepanjang Sungai Mahakam akhirnya berakhir.”

Menyebar pula rekaman jasad lumba-lumba terapung dekat rakit atau keramba.

Terlihat pula beberapa warga di tepi dermaga kayu tradisional dan di perahu kecil menyaksikan jasad lumba-lumba itu.

Jasadnya memerah dan mengalami pengelupasan pada beberapa bagian kulit akibat proses pembusukan alami atau gesekan.

Selanjutnya warga mengikat ekornya lalu ditarik ke tepi sungai.

Kematiannya menghapus harapan pecinta satwa untuk bisa mengembalikannya ke laut.

Harapan publik agar satwa ini dapat diselamatkan akhirnya sirna pada Sabtu siang lalu.

Sebelumnya, mengetahui adanya lumba-lumba tersesat di Sungai Mahakam, Pemimpin Program Ilmiah Yayasan Konservasi RASI, Danielle Kreb, meminta masyarakat ikut memantau keberadaan satwa tersebut dengan melaporkan jika kembali terlihat.

Kreb mengatakan, biasanya lumba-lumba air asin masuk ke aliran air tawar karena musim kemarau atau mengikuti pakannya.

Ada pula kemungkinan lumba-lumba itu mencari tempat yang lebih aman atau terpisah dari kelompoknya.

Kreb menjelaskan masyarakat dapat membedakan lumba-lumba laut dengan pesut Mahakam dari bentuk fisiknya.