WARTABANJAR.COM, PELAIHARI- Fenomena kekeringan akibat kemarau panjang di area persawahan Desa Handil Negara, Kecamatan Kurau, kini diwarnai aktivitas warga yang memanfaatkan genangan air di sekitar permukiman untuk mencari ikan air tawar.

Kondisi ini terjadi setelah sepekan sebelumnya kawasan tersebut sempat diliputi aroma sangat menyengat akibat kematian massal ribuan ikan.

Saat tim Wartabanjar.com memantau langsung ke lokasi tersebut, Rabu (29/7/2026), aroma bau busuk tersebut sudah jauh berkurang seiring mengeringnya persawahan. 

Warga setempat memanfaatkan genangan air di kolong rumah panggung yang terhubung langsung dengan areal sawah untuk memanen ikan segar yang tersisa.

Sebelumnya, tumpukan bangkai ikan di persawahan belakang SDN 1 Handil Negara sempat mengganggu kenyamanan dan aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut.

Kepala Sekolah SDN 1 Handil Negara, Abdusshamad, membenarkan bahwa peristiwa kematian massal ikan sempat memicu aroma menyengat yang dirasakan warga sekolah.

"Sempat beberapa minggu yang lalu ikan-ikan pada mati di belakang sekolah ini, sehingga baunya sampai masuk ke sekolah," ungkap Abdusshamad.

Fenomena ini dipicu oleh cuaca ekstrem yang membuat pasokan air di areal persawahan menyusut drastis.

 Menurut Abdusshamad, kejadian seperti ini terbilang langka dan baru pertama kali terjadi akibat durasi kemarau yang sangat panjang.

BACA JUGA: Cegah Penangkapan Ikan Ilegal, Sat Polairud Polres Tala Sosialisasikan Pengawasan Sumber Daya Perikanan

BACA JUGA: Musim Kemarau di Kalsel Datang Lebih Awal, Mulai April

"Ini baru tahun ini aja yang kemarau panjang sehingga banyak ikan mati," tegasnya.

Dampak fenomena tersebut juga memicu respons dari masyarakat sekitar.

Abdusshamad menambahkan bahwa sebagian warga sempat turun ke sawah untuk mengambil sisa-sisa ikan yang berukuran besar.

"Cuma tidak semua karena jumlah ikannya banyak," jelas Abdusshamad.

Fenomena kematian massal ini bermula dari menyusutnya debit air secara drastis hingga dasar sawah mengering dan meretak.

Ikan-ikan jenis gabus, nila, papuyu, hingga sepat siam terperangkap di genangan air dangkal dan mati membusuk.