“Dalam kaitan kekerasan aparat, ini kami coba menganalisis dari tahap penangkapan, kemudian masuk ke tahap pemeriksaan, kemudian penahanan ini ada kekerasan-kekerasan yang dilakukan berbagai bentuk. Ketika di tahap penangkapan, ini bisa ada beberapa faktor. Bisa adanya perlawanan dari yang akan ditangkap, yang ditangkap lagi mabuk, pakai narkoba dan sebagainya ini potensial terjadi kekerasan,” jelasnya.
Baca juga: Pemerintah Pastikan Data di PDNS 2 Aman, Yakin?
Kemudian pada saat pemeriksaan dan dalam rangka mengejar pengakuan menjadi salah satu kelemahan.
“Hingga kami Kompolnas merekomendasikan untuk kedepankan pendekatan secara Scientific Crime Investigation. Bahkan kami melakukan penelitian, merekomendasikan untuk membangun bank data DNA kriminal,” sambungnya.
Selain itu, pendekatan dengan jejak digital dan CCTV serta penggunaan body camera juga sangat diperlukan. Hal itu untuk memantau anggota saat melakukan penangkapan hingga pemeriksaan.
“Sehingga komandannya bisa memantau, jadi kelihatan siapa yang melakukan kekerasan dan anggotanya merasa terpantau,” imbuhnya.
Baca juga: DPR Panas Dingin Gara-Gara PPATK Bakal Lapor MKD Soal Judi Online
“Diharapkan dengan pendekatan secara Scientific ini maka gak perlu ngejar pengakuan, maka kekerasan-kekerasan dalam proses penyidikan itu bisa ditekan,” pungkasnya.
Diketahui, AM ditemukan tak bernyawa di bawah Jembatan Kuranji, Padang, Sumatera Barat dengan luka lebam di sejumlah bagian tubuh. AM diduga tewas setelah disiksa sejumlah polisi dari anggota Samapta Bhayangkara yang bertugas melerai tawuran pada Minggu (09/06/2024) lalu. (Sidik Purwoko)






