Hingga saat ini, tercatat telah terjadi 51 kali kebakaran dengan titik api yang berpindah-pindah, baik di dalam maupun di luar rumah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius berbagai pihak karena kejadian tidak terjadi pada satu lokasi tetap, dan terus berulang meskipun telah dilakukan berbagai upaya penanganan.
Agus mengaku enggan musibah yang menimpanya dikaitkan dengan hal-hal mistis seperti santet. Mereka masih percaya peristiwa ini bisa dijelaskan secara ilmiah.
“Kalau menduga-duga (santet) aku enggak seiring. Ini tuh masih bisa diarahkan ke logis. Misalnya, gagang pintu ada handuknya, handuknya kan bisa menyimpan gas, bisa menimbulkan gas statis misalnya. Kalau dikait-kaitkan dengan hal mistis sepertinya aku yang enggak paham tentang itu begitu,” ujarnya.
Dia mengatakan beberapa orang pintar telah datang ke sini untuk membantu. Dia pun mempersilakan selama tujuannya baik.
“Sifatnya begini, kalau kami sekeluarga itu kami percaya bahwa adanya gas metana secara fisik dan secara ilmiah. Ibaratnya saiki realistis wae lah gitu. Tapi kalau ada yang membantu secara spiritual dan lain sebagainya, ya kami terima. Tapi kami hanya sebatas menghargai. Kami percaya, cuma ya percayanya mereka membantu itu udah ada niat baik, terima kasih begitu,” katanya.
Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY menyebut, pemicu kebakaran bisa dari berbagai penyebab. Salah satunya gas metana dari septic tank.











