Dia mengatakan beberapa orang pintar telah datang ke sini untuk membantu. Dia pun mempersilakan selama tujuannya baik.
“Sifatnya begini, kalau kami sekeluarga itu kami percaya bahwa adanya gas metana secara fisik dan secara ilmiah. Ibaratnya saiki realistis wae lah gitu. Tapi kalau ada yang membantu secara spiritual dan lain sebagainya, ya kami terima. Tapi kami hanya sebatas menghargai. Kami percaya, cuma ya percayanya mereka membantu itu udah ada niat baik, terima kasih begitu,” katanya.
Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY menyebut, pemicu kebakaran bisa dari berbagai penyebab. Salah satunya gas metana dari septic tank.
“Fenomena munculnya titik api sporadis dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor lingkungan, keberadaan material mudah terbakar, kemungkinan akumulasi gas organik dalam skala lokal, maupun faktor teknis non-geologi. Dalam hal ini, menurut pengamatan di lapangan, adanya akumulasi gas metana dari septic tank ,” terang Kepala Dinas PUPESDM DIY Anna Rina Herbranti, Sabtu (30/5).
Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta, Prof Dr Ir RM Basuki Rahmad telah mengecek lokasi rumah tersebut.
“Kami lakukan investigasi dengan berjalan kira-kira jarak 300 meter, ada sungai dan ada satu singkapan batuan. Kami amati batuan tersebut, di dalam batuan itu terlihat seperti batuan dengan warna gelap. Di dalam singkapan batuan ada genangan air. Kami lacak ada indikasi gelembung-gelembung gas,” katanya, Sabtu (30/5).
Hasil dari investigasi itu, lanjut Basuki, ditemukan gelembung-gelembung gas yang terindikasi kuat sebagai gas metana, CH4.
“Jadi indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa,” tambahnya.
Dosen sekaligus Asisten Profesor di Departemen Teknik Geologi UGM, Dr Sarju Winardi menyampaikan, pihaknya juga telah melakukan pengukuran suhu panas menggunakan kamera termal.
“Maka kadang-kadang butuh waktu agak lama. Berkumpul di sofa, berkumpul di pakaian, berkumpul di kain dalam jumlah waktu yang cukup, untuk menyala. Tetapi kalau kandungannya masih sedikit, belum menyala,” kata Sarju.
Ia menjelaskan, benda berpori seperti pakaian dan sofa bisa menyimpan gas.
“Relatif lebih aman ketika sirkulasi udara dibuka. Kemudian ada kipas angin juga maka kadarnya sangat berkurang. Insyaallah aman karena potensi terbakar menjadi berkurang ketika sudah di luar ruangan,” imbuhnya. (Wartabanjar.com)







