Artikel 5: Naskah Lengkap Pleidoi Nadiem Makarim, Negara Runtuh karena Kelangkaan Harapan
WARTABANJAR.COM, JAKARTA - Inilah bagian terakhir atau artikel ke-5 naskah lengkap pleidoi mantan Mendikbudristek, Nadiem Makarim.
Pleidoi atau nota pembelaan ini dibaca Nadiem Makarim dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).
Nadiem Makarim didakwa melakukan korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management semasa menjabat Mendikburistek.
Ia dituntut hukuman penjara selama 18 tahun dan membayar uang pengganti sebesar Rp 5,6 triliun subsidair 9 tahun penjara
Karena panjangnya naskah nota pembelaam, isi lengkap pleidoi ditayangkan dalam beberapa artikel.
Berikut artikel terakhir naskah pembelaan atau pleidoi Nadiem Makarim.
….
Saya Mendikbud pertama yang menginap di rumah guru di kampung-kampung, bahkan menginap di perpustakaan di tengah hutan untuk melihat langsung Sekolah Rimba. Dari interaksi tersebut, saya melihat potensi yang luar biasa dari guru-guru kita yang jarang dilihat banyak pemimpin. Saya menyadari kalau mereka diberikan sedikit saja kemerdekaan, kalau mereka diberikan sedikit saja sarana pembelajaran, kalau mereka diberikan sedikit saja kesejahteraan, mereka bisa menggerakkan satu negara dari dalam ruang kelas mereka.
Dalam setiap sesi diskusi di daerah dengan guru, hampir selalu ada beberapa guru yang menangis kepada saya. Mereka tidak menangis karena gaji mereka rendah. Mereka tidak menangis karena fasilitas mereka tidak memadai. Mereka menangis karena mereka baru menyadari apa artinya menjadi guru yang merdeka. Mereka menemukan kembali filsafat Ki Hajar Dewantara dalam dirinya, setelah bertahun-tahun sekadar menjalankan administrasi pendidikan. Mereka menyadari bahwa tugas mulia mereka adalah memerdekakan potensi setiap murid di kelasnya.
Banyak kepahitan yang saya alami sebagai menteri, tetapi kebahagiaan terbesar saya adalah bertemu guru yang menemukan kekuatan besar dalam dirinya, yang belum pernah mereka sadari. Itulah kenapa saya menerima amanah sebagai Menteri Pendidikan. Itulah kenapa saya melakukan digitalisasi pendidikan. Bukan untuk menambah kekayaan saya, bukan demi ambisi politik. Saya mengabdi murni untuk menjaga masa depan negara yang saya cintai.