WARTABANJAR.COM - Belasan siswi SMKN 2 Garut viral di media social, setelah diduga rambut mereka dipotong paksa oleh oknum guru Bimbingan dan Konseling (BK) saat razia di sekolah.

Dilaporkan, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 30 April 2026, di SMKN 2 Garut, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Kejadian berlangsung usai para siswi mengikuti kegiatan mata pelajaran olahraga.

Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah siswi menangis histeris setelah rambut mereka diduga dipotong di lingkungan sekolah.

Baca Juga: Setelah Mobil dan Rumah Dinas, Giliran Jasa Cuci Pakaian Gubernur Kaltim Disorot

Baca Juga: Warta Viral: Sejarah Bus Legendaris ALS, Cek Kronologi Tabrakan Maut Musirawas Sumsel Tewaskan 16 Orang

Aksi tersebut kemudian memicu perhatian publik dan reaksi dari orang tua siswa.

Pada 5 Mei 2026, para orangtua siswa yang mengalami pemotongan rambut paksa, mempertanyakan Tindakan guru BK tersebut.

Kuasa hukum siswa Asep Muhidin, menyampaikan bahwa insiden tersebut diketahui setelah para siswi mengadu kepada Badan Eksekutif Mahasiswa Stainus Garut.

"Alasannya ada laporan masyarakat soal warna rambut, tetapi kami pertanyakan dasar laporannya. Kenapa tidak melibatkan orangtua, itu lebih etis," ujar Asep Muhidin, Kamis (7/5/2026).

Ia juga menyebut dari belasan siswi yang terdampak, terdapat sembilan orang tua yang meminta pendampingan hukum terkait peristiwa tersebut.

Beberapa orang tua disebut belum menerima kejadian itu, sebelum ada tindak lanjut terhadap oknum guru BK.

Pihak sekolah sebelumnya menyebut, tindakan tersebut dilakukan berdasarkan laporan dari wali kelas dan masyarakat, kalau rambut para siswi tersebut telah diwarnai meski mereka semua menggunakan hijab saat bersekolah.

Viralnya pemotongan paksa rambut para siswi tersebut, membuat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menemui orangtua siswi dan guru BK tersebut, Rabu (6/5).

"Anak-anaknya sudah merapikan rambutnya di salon, kemarin sudah saya kirim mereka ke salon untuk merapikan rambutnya," ucap Dedi.

Sementara, Kepala SMKN 2 Garut, Nur Al Purqon mengungkapkan, kejadian itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan dan pihak sekolah telah meminta maaf.