Sri Mulyani Optimistis Potensi Pemulihan Cukup Besar, World Bank Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1 Persen
"Ini berarti APBN dapat fokus menjalankan peran sebagai shock absorber," tandas Sri Mulyani.
Di sisi belanja negara, sebut dia, baik belanja pemerintah pusat maupun daerah perlu terus diakselerasi. Realisasi belanja negara mencapai Rp938,2 T (34,6% dari APBN), terkontraksi 0,8% (yoy).
Kinerja daerah dalam pemenuhan syarat salur perlu ditingkatkan. Begitu juga simpanan daerah di perbankan yang tinggi menunjukkan realisasi belanja APBD perlu ditingkatkan.
Dengan kondisi di atas, postur APBN 2022 pada akhir tahun akan mengalami perubahan besar. Pendapatan negara diperkirakan naik Rp420,1 T, begitu pula belanja negara naik Rp392,3 T, terutama akibat belanja subsidi dan kompensasi yang naik Rp349,9 T. Dampaknya, defisit APBN diperkirakan akan turun menjadi 4,50% PDB (Rp840,2 T).
"Semoga cerita konsolidasi APBN yang sangat baik dan positif ini (peningkatan penerimaan signifikan, belanja dan pembiayaan utang terkendali) akan terus berlanjut sehingga APBNKiTa akan semakin kuat dan sehat untuk menghadapi tantangan global yang dinamis dan fluktuatif," tutup Sri Mulyani. (edj)
Editor: Erna Djedi