Pada prosesi pelepasan tersebut seluruh jamaah telah diberikan biaya hidup selama melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Sebanyak 1.500 Riyal yang terdiri dari dua lembar SAR 500 dan lima lembar SAR 100 diberikan oleh Kanwil BRI kepada Sekda dan diteruskan kepada para jemaah.

Empat jamaah sebagai perwakilan jamaah keloter 1 menerima living cost langsung dari Sekda Sulsel, anggota DPR Ri, Dirjen PHU, dan Kakanwil Kemenag Sulsel. Jika dirupiahkan dengan kurs Riyal saat ini (Rp. 3.946), maka setiap jamaah mengantongi biaya hidup sebanyak Rp. 5.919.000

Dalam kesempatan tersebut, Kakanwil Kemenag Sulsel Khaeroni selaku Ketua Panitia Pelaksana Ibadah Haji Embarkasi Makassar mengungkapkan bahwa sebanyak 7234 Jamaah Calon Haji akan diberangkatkan melalui Embarkasi Makassar. 7119 merupakan para jamaah haji, 7 Pembimbing KBIHU, 34 Petugas Haji Daerah dan 74 PPIHU dan untuk Kloter pertama diisi sebanyak 393 Jemaah Calon Haji (JCH) yang berasal dari Kota Makassar sebanyak 209 orang, Kota Parepare 61 orang dan JCH Kab. Soppeng 119 orang.

Hilman Latif Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah mengungkapkan tidak mudah untuk tahun ini memberangkatkan haji. Bukan hanya masa pandemi tetapi berbagai hal yang baru yang harus kita hadapi teruatama untuk perbaikan layanan yang kita hadapi di tanah suci. “Durasi persiapan pelaksanaan ibadah haji tahun ini sangat singkat. Biasanya kita kerjakan 6-7 bulan tetapi untuk tahun ini hanya 40 hari.” ulasnya

Selain itu, biaya haji juga yang tidak sedikit. Biaya jamaah haji untuk Sulsel diatas 100 juta hari ini tetapi Jamaah hanya membayar 38 juta. Lebihnya Tanggung jawab kami, karena kami yang mengantarkan bapak dan ibu ke tanah suci.

Dirjen PHU mengharapkan para jamaah bisa dapat menjaga nama baik bangsa dan negara terutama Sulawesi Selatan. Tidak melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Kita bisa selfie tetapi jangan membawa poster karena bisa bisa ditangkap dan berbulan-bulan prosesnya. Hal sepele tetapi karena kebiasaan kita bawa spanduk, poster seperti naik umrah.