‘Bungkam’ Perlawanan Rakyat di Medsos, Junta Militer Myanmar Blokir Akses ke Facebook

    Itu angka tahun lalu. Kemungkinan besar dalam satu tahun terakhir ini angka itu jauh lebih besar lagi, apalagi pandemi membuat orang seluruh dunia, termasuk Myanmar, menggantungkan koneksi internet untuk tetap terhubung dan memperoleh informasi serta hiburan.

    The Irrawaddy bahkan menyebutkan saat ini ada 54,5 juta warga Mynamar yang menggunakan Facebook. Dan ini termasuk militer dan keluarganya yang disebut-sebut sebagai kalangan yang keranjingan Facebook.

    Junta tidak nyaman

    Jangan heran ketika Tatmadaw yang dipimpin Jenderal Min Aung Hlaing menahan Aung San Suu Kyi dan memberlakukan keadaan darurat satu tahun dalam kudeta 1 Februari itu, rakyat Myanmar membanjiri Facebook.

    Jutaan pengguna media sosial menumpahkan simpati dan dukungan kepada Suu Kyi dan demokrasi, bahkan menyeru pembangkangan sipil.

    Seruan ini sendiri beresonansi ke banyak kalangan, termasuk kaum profesional, pegawai negeri sipil termasuk petugas kesehatan yang mogok kerja dari menangani pandemi COVID-19, dan kalangan sipil, yang serempak menyambut ajakan pembangkangan sipil itu.

    Mereka juga mengunggah seruan kepada negara-negara Barat agar menyelamatkan Myanmar. Tagar-tagar anti-junta juga berseliweran di Facebook, termasuk tagar “civil disobedience” atau pembangkangan sipil, “stay-at-home-movement” dan “save Myanmar”.

    Gerakan online itu juga mewujud di dunia nyata dengan munculnya gerakan-gerakan simbolis menentang militer seperti gerakan membunyikan klakson mobil dan memukul panci.

    Tak pernah rakyat Myanmar bisa seterbuka itu menentang junta. Pada masa-masa lalu ketika kudeta terjadi, kebanyakan rakyat bungkam karena semua saluran informasi memang bisa dengan mudah dikunci oleh junta.

    Baca Juga :   Risma, Ahok, dan Andika Perkasa Masuk Hitungan Megawati untuk Dicalonkan di Pilgub

    Baca Lebih Lengkapnya Instal dari Playstore WartaBanjar.com

    BERITA LAINNYA

    TERBARU HARI INI