‘Bungkam’ Perlawanan Rakyat di Medsos, Junta Militer Myanmar Blokir Akses ke Facebook

    Dalam sejarah modernnya, Myanmar sudah tiga kali mengalami kudeta dan ketiganya terjadi dalam masa pra-smartphone dan pra-media sosial, pada 1958, 1962 dan 1988.

    Saat itu para jenderal yang melancarkan kudeta beruntung karena untuk mengendalikan rakyat, mereka cukup memarkir kendaraan tempur di depan stasiun televisi atau radio, kemudian memerintahkan serdadu-serdadunya menodongkan senjata ke para penyiar agar membacakan pernyataan bahwa militer telah mengambil kekuasaan.

    Namun keadaan saat ini berbeda dengan puluhan tahun lalu. Kini rakyat Myanmar mempunyai banyak alternatif dalam bagaimana mencari tahu apa yang terjadi di sekeliling mereka, bahkan bisa turut aktif dalam perdebatan politik dan sosial.

    Itu terjadi setelah media sosial hadir dan meluasnya penetrasi smartphone di negeri yang sekitar dua dekade lalu sangat menutup diri itu. Kini, boleh dibilang Myanmar sudah menjadi salah satu “negara Facebook” karena luasnya penetrasi platform media sosial tersebut di Negeri Seribu Pagoda ini.

    Data “We Are Social” Januari 2020 memperlihatkan bahwa baik pengguna telepon mobile, pengguna internet, maupun pengguna media sosial di Myanamar, bertambah dari tahun ke tahun.

    Dari Januari 2019 sampai Januari 2020, jumlah pengguna aktif media sosial naik 1,4 juta pengguna sehingga sampai Januari 2020 ada 22 juta pengguna media sosial aktif di sana atau 41 persen dari jumlah penduduk.

    Di Myanmar, media sosial 100 persen diakses dari smartphone, sedangkan yang terkoneksi dengan smartphone sendiri sudah mencapai 68,24 juta pengguna atau 126 persen dari total penduduk.

    Baca Juga :   Hasil Forum Parlemen WWF ke-10, Isu Air Jadi Agenda Prioritas

    Baca Lebih Lengkapnya Instal dari Playstore WartaBanjar.com

    BERITA LAINNYA

    TERBARU HARI INI