“Saya bilang pada sahabat saya itu tenang saja karena saya tahu banyak perwira militer dan keluarganya sudah kecanduan media sosial dan Facebook. Jika internet dimatikan, mereka (militer) juga akan memberontak, bukan hanya rakyat,” kata Aung Zaw.
Tulisan Aung Zaw itu memang sinisme, tetapi menguakkan fakta bahwa Facebook sudah demikian merasuki rakyat Myanmar. Bahkan konon, mantan pemimpin militer Jenderal Than Shwe yang sudah berusia 80-an tahun dan hobi membaca garis tangan, berselancar setiap hari di Facebook.
Dalam banyak hal militer juga membutuhkan media sosial, terutama untuk menyebarkan pesan-pesan mereka sendiri, salah satunya dalam memuluskan orkestra politik militeristisnya di negara bagian Rakhine, jauh sebelum pembantaian Rohingya terjadi pada 2017.
Media sosial memang telah membantu memupuk sentimen anti-Rohingya lewat hoaks dan ujaran kebencian yang disebarluaskan sekutu-sekutu militer. Dan ini mempermudah jalan dan bahkan menjadi legitimasi untuk eksterminasi Rohingya.
Salah satu ujaran kebencian itu berasal dari posting biksu ekstrimis anti-muslim, Ashin Wirathu.
Pada 2014, dia membagikan posting pemerkosaan oleh para pemuda muslim terhadap seorang gadis Budha yang viral di Facebook namun ternyata terbukti bohong besar.
Tetapi kebencian sudah terlanjur merasuki bagian besar penduduk. Tinggal menunggu pemantik saja untuk naik ke tingkat lebih esktrem.
Dan ketika pemantik itu muncul setelah Arakan Rohingya Salvation Army menyerang pos-pos Tatmadaw di perbatasan Myanmar-Bangladesh, Tatmadaw pun mendapatkan jalan untuk melancarkan apa yang sebelumnya sudah dipupuk lewat kampanye hasutan di media sosial dan kemudian disebut PBB sebagai genosida Rohingya itu.







