Disdukcapil Tabalong Peringatkan Warga Soal Risiko Nikah Siri dengan WNA
WARTABANJAR.COM, TANJUNG – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam menjalin pernikahan dengan warga negara asing (WNA), terutama jika pernikahan dilakukan secara siri atau tidak tercatat secara resmi.
Kepala Disdukcapil Tabalong Rowi Rawatiance mengatakan persoalan administrasi kependudukan dapat muncul di kemudian hari, terutama bagi anak yang lahir dari pernikahan siri.
Menurut dia, persoalan tersebut bahkan dapat berlanjut ketika anak memasuki jenjang pendidikan hingga saat membutuhkan dokumen administrasi untuk melamar pekerjaan.
"Karena yang menjadi korban adalah anaknya. Bisa bermasalah ketika masuk sekolah, bahkan sampai nanti mendaftar pekerjaan, seperti masuk Polri atau TNI," ujar Rowi saat menyambangi PT Tanjung Power Indonesia (TPI) dan PT Conch Semen South Kalimantan, Kamis (10/9/2026).
Baca juga: Kantor Imigrasi Awasi 47 Pekerja Asing di Tabalong, Terbanyak di Perusahaan Semen Conch
Baca juga: 35 Tenaga Kerja Asing PT Conch di Tabalong Belum Miliki Surat Keterangan Tempat Tinggal
Rowi mengatakan pihaknya menemukan adanya warga asing dari sejumlah negara di antaranya Cina, India dan Pakistan, yang menikah dengan warga lokal.
Hal senada disampaikan Kasi Bina Masyarakat Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tabalong, Akhmad Surkati.
Ia mengimbau masyarakat agar melangsungkan pernikahan sesuai ketentuan dan mencatatkannya secara resmi.
"Kalau menikah secara resmi, dokumennya jelas. Kalau siri, nanti ketika punya anak bisa menemui banyak masalah, terutama terkait akta kelahiran. Bahkan ketika anak tersebut nanti mau menikah, bisa mengalami kesulitan," ujar Surkati.
Sementara itu, HRGA-IT Section Head PT TPI, Muhamad Auliannoor mengatakan, saat ini terdapat tiga tenaga kerja asing (TKA) asal Korea Selatan yang bekerja di perusahaan tersebut.
"Di PT TPI ada tiga orang asing, warga Korea. Mereka sudah berkeluarga. Ada yang keluarganya dibawa ke Indonesia, ada juga yang tetap tinggal di negaranya," kata Auliannoor.
Adapun di PT Conch Semen South Kalimantan terdapat sekitar 35 tenaga kerja asing yang mayoritas merupakan warga negara Cina.