Seniman Barabai HST Angkat Isu Kabut Asap dan Deforestasi Lewat Karya Seni
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Sebuah lukisan di Kafe Seena Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan tidak hanya menjadi pajangan.
Di dalamnya ada cerita tentang hutan yang rusak, satwa yang kehilangan habitat, hingga kegelisahan manusia menghadapi persoalan lingkungan.
Karya tersebut merupakan hasil kolaborasi pelukis asal Barabai, Amru, bersama Kafe Seena.
Orangutan menjadi salah satu objek utama yang digunakan untuk menyampaikan keresahan mengenai kerusakan hutan dan deforestasi di Kalimantan.
Melalui karyanya, Amru menghadirkan sosok orangutan seolah sedang mencari tempat untuk kembali.
Baca Juga Tiga Tersangka Pembunuhan Penata Rias di Kelurahan Jawa Kabupaten Banjar Diringkus, Ada Perempuannya
Baca Juga Api Kembali Muncul di Kebakaran Jalan Pandu Banjarmasin, Jago Merah Sempat Membara di Tumpukan Kapuk
Pesan yang ditinggalkan dalam lukisan itu berbunyi, “Langit kami tak lagi biru, rumah kami tak lagi hijau.”
Pesan tersebut kemudian mengarah pada satu pertanyaan: “Ke mana aku pulang?”
Bagi Amru, persoalan kerusakan hutan bukan hanya mengenai perubahan kondisi lingkungan.
Ketika hutan kehilangan ruangnya, kehidupan yang bergantung pada habitat tersebut juga ikut terdampak.
Keresahan itu kemudian dituangkan melalui gambaran orangutan dan manusia dalam satu karya.
Ia juga mengingatkan agar persoalan lingkungan tidak berhenti sebagai berita yang dibaca, lalu hilang begitu saja.
“Jangan biarkan kami hanya menjadi cerita tercetak di atas kertas yang perlahan menghilang dan terbakar bersama asap,” tulis Amru dalam karyanya.
Namun, Kafe Seena tidak berhenti pada karya yang dibuat seorang seniman. Pengunjung juga diberi ruang untuk menuliskan pandangan dan keresahan mereka mengenai kondisi lingkungan.
Tulisan-tulisan tersebut ditempelkan pada kaca yang disediakan di area kafe. Ruang itu membuat pengunjung tidak hanya menjadi penikmat karya, tetapi juga dapat meninggalkan pemikiran mereka sendiri.
Salah satu pengunjung, Lisda, menilai ruang tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan keresahan dengan cara yang berbeda.
“Ini kesempatan yang baik untuk menuangkan keresahan melalui tulisan,” ujar Lisda.