Wisata Halau-Halau HST Berpeluang Dibuka Lagi, Aturan Pendakian Bakal Dibenahi
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Rencana penutupan permanen wisata pendakian Gunung Besar Halau-Halau, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) yang menjadi puncak tertinggi di Kalimantan Selatan itu kini dicabut.
Kesepakatan tersebut muncul dalam musyawarah tindak lanjut yang digelar Forum Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gunung Halau-Halau bersama Tokoh Adat Kiyu di Balai Adat Kiyu, Kamis (20/8/2026).
Pertemuan itu belum langsung menetapkan pembukaan jalur pendakian.
Sebaliknya, sejumlah pihak sepakat membuka kembali peluang wisata tersebut dengan catatan sistem pendakian, aturan dan pengelolaannya lebih dulu dibenahi.
Kepala Balai Adat Kiyu, Makurban, mengatakan warga Kiyu Desa Hinas Kiri bersama tokoh adat telah menyepakati pencabutan informasi mengenai penutupan permanen Gunung Halau-Halau.
“Jadi, untuk informasi penutupan permanen itu kita cabut,” ujar Makurban.
Menurutnya, rencana pembukaan kembali jalur pendakian perlu diikuti dengan pembenahan agar aktivitas wisata tetap berjalan tanpa mengabaikan aturan dan nilai adat yang selama ini dijaga masyarakat.
Baca Juga Mahasiswa Dilarikan ke Rumah Sakit Pascabentrok dengan Polisi di Depan DPRD Kalsel
Baca Juga Jari Kasatlantas Polresta Palangka Raya Patah, Perwira Polsek Pahandut Diperiksa Polda Kalteng
Pembahasan tersebut melibatkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan HST, perwakilan Kecamatan Batang Alai Timur (BAT), Kapolsek Batang Alai Selatan (BAS), Kepala Desa Hinas Kiri, Kepala Adat BAT, perwakilan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), tokoh adat serta masyarakat sekitar.
Warga Kiyu, Badri, juga menilai penutupan permanen bukan jalan keluar apabila persoalan yang terjadi masih dapat diselesaikan melalui musyawarah.
“Gunung ini bukan milik perorangan, tapi milik bersama. Terkait kesakralan tetap kita pertahankan, namun bisa saja berjalan berdampingan dengan aktivitas wisata yang diatur sebaik mungkin,” katanya.
Menurut Badri, keberadaan wisata dan nilai adat tidak harus dipertentangkan. Keduanya dinilai dapat berjalan bersama selama terdapat aturan yang disepakati dan dipatuhi.
Dukungan terhadap pengelolaan wisata juga disampaikan Kepala Desa Hinas Kiri, Matnor. Ia mengatakan pemerintah desa telah mendukung sejumlah fasilitas untuk menunjang aktivitas pendakian Gunung Halau-Halau.