WARTABANJAR.COM, PELAIHARI - Bupati Tanah Laut, H. Rahmat Trianto, memaparkan rekam jejak sejarah, keberagaman demografi, hingga kekayaan potensi alam Kabupaten Tanah Laut saat menyambut kunjungan pendamping utama Menteri Lingkungan Hidup (LH), Alia Jumhur Hidayat, di Gedung Balairung Tuntung Pandang, Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Jumat (08/08/2026) malam.

Acara malam ramah tamah yang turut dihadiri Ketua TP PKK Tanah Laut Hj. Dian Rahmat tersebut digelar sebagai ajang silaturahmi sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat, khususnya dalam penyelarasan program pengelolaan lingkungan hidup dan persampahan di daerah.

Dalam sambutannya, Rahmat Trianto secara khusus meluruskan persepsi publik luar daerah yang kerap mengaitkan nama Tanah Laut dengan destinasi wisata populer di Bali.

Pihaknya menegaskan bahwa Kabupaten Tanah Laut memiliki identitas tersendiri di Kalimantan Selatan dengan bentang alam yang khas.

"Karena tentunya kami waktu memperkenalkan diri sebagai Bupati Tanah Laut, orang menganggap saya dari Bali. Orang menganggap Tanah Lot. Padahal Tanah Laut bukan, saya bilang bukan Bali. Tapi Kalimantan Selatan, Tanah Laut bukan Tanah Lot," kelakar Rahmat di hadapan rombongan.

Rahmat menjelaskan bahwa nama Tanah Laut mencerminkan geografis daerah seluas 363.000 hektare yang menggabungkan kawasan dataran tinggi, perairan sungai, serta garis pantai sepanjang 172 kilometer.

Potensi tersebut ditopang oleh sektor pertanian dan perkebunan seluas 264.000 hektare yang menjadi tumpuan ekonomi warga setempat.

Baca Juga Massa Kembali Geruduk PLN Palangka Raya, Pemadaman Listrik di Kalteng Belum Usai

Baca Juga Karhutla Kabupaten Banjar, 71 Kejadian Hanguskan 294 Ribu Hektare Lahan

"Tanah Laut bukan hanya memiliki tanah, tetapi juga laut. Kekayaan alam yang luar biasa ini menjadi potensi bagaimana hasil bumi yang ada dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat," tegasnya.

Di samping potensi ekonomi, Rahmat turut mengulas peradaban panjang Tanah Laut sejak era Kebudayaan Barito abad ke-4, Kerajaan Nansarunai, hingga masa kolonial.