WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Di tengah menurunnya debit air sungai di Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) akibat kemarau panjang dan intrusi air laut, PT Air Minum (PAM) Bandarmasih terus melakukan pemantau kadar garam.

"Apalagi dalam kondisi air asin seperti sekarang, pemantau tidak hanya dilakukan per hari, melainkan per jam," kata Supervisor Humas PAM Bandarmasih Murjani SE, Rabu (7/10/2026).

Pemantauan dan pemeriksaan antara lain dilakukan di kawasan Intake Sungai Bilu, yang menjadi salah satu lokasi perusahaan milik Pemerintah Kota Banjarmasin ini mengambil air baku untuk diolah menjadi air bersih dan disalurkan kepada pelanggan.

Baca juga: Karhutla di Handil Bakti Batola Merembet ke Perumahan

Baca juga: Tragedi Nasi Bungkus Berujung Duel Maut di Depan SPBU Basirih Banjarmasin Direka Ulang

Dalam pemeriksaan pada Selasa (6/10/2026) pukul 22.00 Wita, kadar garam di Intake Sungai Bilu masih tinggi. Kadar garamnya di angka 1.942 miligram per liter. Padahal batas amannya adalah 300 mg/liter. Ini sekitar 6,5 kali lipat dari batas normal. 

"Batas aman konsentrasi klorida dalam air baku menurut Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 adalah 300 miligram per liter," terang Murjani.

Kadar garam pada Selasa pukul 07.00 Wita bahkan jauh lebih tinggi yakni 7.116 mg/liter. Ini hampir 24 kali lipat di atas batas aman. 

Tinggi permukaan air Intake Sungai Bilu juga belum aman.  Rata-rata masih di bawah 300 sentimeter, yang menjadi batas aman untuk PAM Bandarmasih mengambilnya sebagai air baku.

Pada pukul 22.00 Wita, ketinggian air hanya 149 sentimeter.  Ketinggian di atas batas aman hanya terjadi sekitar pukul 07.00 Wita.  Itu pun hanya sedikit di atas batas aman yakni 304 sentimeter.

Demikian pula debit air sungai. Normalnya, debit air berada pada level 2.210 meter kubik per jam. Namun kini kiriman air dari hulu pada pukul 22.00 Wita hanya 354 meter kubik per jam.

Pada pukul 07.00-11.00 Wita, debitnya bahkan terdata nol. Ini berarti air sungai tidak mengalir.