Tiga Polisi Gugur di Tepian Sungai Katingan, Tragedi Desa Tumbang Kalemei yang Tak Boleh Terulang
Berdasar kesaksian rekan-rekannya, keduanya terakhir terlihat saat berusaha berenang melawan arus deras Sungai Katingan.
Pencarian terhadap Nopandri Ramadhana dan Sumariyanto pun dilakukan dengan mengerahkan puluhan orang dari tim gabungan Polres Katingan, Polda Kalteng, tim SAR, personel TNI dan masyarakat.
Di sisi lain, perburuan terhadap orang-orang yang terlibat dalam penyerangan polisi dan peredaran narkoba di desa itu juga digencarkan.
Tiga hari berselang, Aipda Nopandri Ramadhana ditemukan.
Ia meninggal dalam posisi terapung dan tersangkut ranting-ranting pohon di Sungai Katingan Kawasan Desa Tumbang Lahang, Katingan.
Lokasi ini berjarak 37 kilometer dari Desa Kalemei, tempat penggerebekan berlangsung.
Netizen pun menyoroti jauhnya parak tersebut.
Pertanyaan, terseret aruskah hingga bisa sejauh itu dan mungkinkah polisi muda tersebut memang dibuang di tempat itu, masih menjadi obrolan ramai di media sosial.
Dan, Minggu (5/7/2026) pagi, Aiptu Sumariyanto pun ditemukan.
Ia pun sudah meninggal. Jenazahnya tersangkut tumpukan kayu dan ranting pohon di Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan, wilayah Desa Rantau Asem.
Jaraknya sekira 8 kilometer dari Desa Tumbang Kalemei.
Baca Juga: Tangis Ibunda Sambut Jenazah Aipda Yudhie, Gugur Saat Gerebek Bandar Narkoba Katingan Kalsel
Tiga polisi gugur saat melakukan penggerebekan bandar narkoba, operasi yang seharusnya menjadi upaya menyelamatkan masyarakat dari bahaya narkoba.
Tragedi ini memperlihatkan berbahayanya jaringan narkotika yang diduga telah mengakar di wilayah pedalaman.
Operasi penegakan hukum berubah menjadi pertarungan hidup dan mati.
Tim gabungan diterjunkan untuk memburu para pelaku penyerangan.
Setidaknya sudah dua orang ditangkap, lainnya terus diburu.
Peristiwa di Katingan seakan mengingatkan bahwa perang melawan narkoba bukan sekadar operasi penangkapan.