Perusahaan-Perusahan Ini Menyesal Pakai AI, Kini Kembali Rekrut Karyawan

Baca Juga: Microsoft Siapkan Dana Rp 44 Triliun untuk Bangun Perusahaan AI Baru

Baca Juga: Pemilik iPhone Wajib Tahu, Ada ‘Bug’ yang Makan Penyimpanan Internal hingga 100 GB

COO Ford, Kumar Galhotra, juga menyatakan hasil sistem kualitas otomatis yang selama ini diandalkan ternyata mengecewakan.

Para karyawan yang direkrut kembali bertugas menelusuri titik kegagalan produk, melatih pekerja muda, sekaligus memprogram ulang alat AI.

Hasilnya, biaya garansi dan recall berhasil ditekan hingga ratusan juta dolar, dan Ford menduduki peringkat teratas dalam Initial Quality Survey dari JD Power pekan lalu.

Sedangkan Klarna yang sempat memangkas sekitar 1.200 karyawan pada 2024 dan menggantinya dengan AI, termasuk chatbot yang menggantikan 700 petugas layanan pelanggan.

Meski chatbot mampu mempersingkat waktu layanan dari 11 menit menjadi dua menit, dan menghemat sekitar 2 juta dollar AS (sekitar Rp 32,7 miliar), hasilnya tidak cukup meningkatkan produktivitas maupun kualitas produk.

CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengakui perusahaan kebablasan menggunakan AI. Kini Klarna membuka lebih dari dua lusin posisi baru, dengan fokus pada peningkatan produktivitas dan pengalaman pelanggan.

Sedang Salesforce sempat memangkas 4.000 karyawan di divisi layanan pelanggan pada awal September 2025, sehingga jumlah staf dukungan menyusut hampir 50 persen dari 9.000 menjadi sekitar 5.000 orang.

CEO Marc Benioff menyebut, posisi tersebut digantikan agen AI yang bekerja secara otonom. Meski begitu, Salesforce tetap mempertahankan kombinasi tenaga manusia dan AI lewat program “omni channel supervisor”, di mana keduanya bekerja berdampingan.