Perpusnas Hentikan Bantuan Buku Akibat Efisiensi Anggaran, Perpustakaan Desa di HST Terdampak
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Program bantuan buku bermutu dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas), yang selama beberapa tahun terakhir rutin disalurkan ke perpustakaan desa dan perpustakaan khusus, dipastikan tidak berjalan pada 2026.
Kebijakan efisiensi anggaran membuat sejumlah perpustakaan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), yang sebelumnya dipersiapkan sebagai penerima bantuan tahun ini, harus menunda penambahan koleksi.
Kepala Dinas Perpustakaan HST H Zamhasari, melalui Pustakawan Rino S, mengatakan program bantuan tersebut selama ini menjadi salah satu sumber utama penambahan koleksi bagi perpustakaan desa, terutama yang belum memiliki anggaran pengadaan buku secara mandiri.
Menurutnya, setiap perpustakaan yang memenuhi persyaratan Perpusnas biasanya memperoleh sekitar 1.000 eksemplar buku, lengkap dengan rak penyimpanan.
"Program bantuan buku bermutu dari Perpusnas ini sebenarnya rutin setiap tahun. Kami menyiapkan perpustakaan desa maupun perpustakaan khusus yang memenuhi persyaratan untuk diusulkan sebagai penerima bantuan," ujarnya kepada wartabanjar.com, Senin (20/7/2026).
Rino menjelaskan, perpustakaan yang diusulkan harus memiliki pengelola, administrasi yang lengkap, serta Nomor Pokok Perpustakaan (NPP).
Baca Juga: Kebakaran PPS Sekumpul Martapura, 14 Kios yang Sudah Lama Kosong Ludes
Selain perpustakaan desa dan kelurahan, bantuan juga dapat diberikan kepada perpustakaan khusus, seperti rumah ibadah maupun instansi pemerintah yang memiliki layanan perpustakaan.
Namun, pada 2026 program tersebut tidak dapat dilaksanakan karena Perpusnas melakukan efisiensi anggaran.
"Kami cukup terkejut karena perpustakaan desa yang sudah kami siapkan tahun lalu berharap mendapat bantuan tahun ini, ternyata tidak jadi. Padahal bantuan itu sangat bermanfaat untuk pengembangan perpustakaan desa dan sangat berguna untuk kemajuan literasi," katanya.
Menurut Rino, penghentian program tersebut cukup berdampak, terutama bagi desa yang belum memiliki kemampuan mengalokasikan anggaran untuk membeli koleksi buku baru.
Ia menilai bantuan dari Perpusnas, selama ini menjadi solusi untuk meningkatkan layanan perpustakaan, sekaligus mendorong minat baca masyarakat di tingkat desa.