WARTABANJAR.COM – Hadirnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) rupanya sempat mendorong banyak perusahaan besar melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, karena menilai teknologi tersebut dapat mengurangi jumlah pekerja mereka.
Namun, setelah AI mulai menunjukkan sisi lainnya, sejumlah perusahaan yang pernah agresif menggantikan karyawan dengan AI menyatakan menyesali keputusan tersebut, dan kini berbalik arah dengan kembali merekrut tenaga manusia.
Ford adalah salah satu nama terbaru yang menambah daftar ini. Perusahaan otomotif asal Amerika Serikat (AS) itu mengakui terlalu mengandalkan AI dalam proses pengembangan kendaraan.
Kini mereka kembali merekrut lebih dari 350 engineer, sebagian di antaranya mantan karyawan Ford sendiri.
Fenomena serupa sebelumnya juga dialami oleh Klarna dan IBM. Klarna, perusahaan teknologi finansial asal Swedia, sempat memangkas sekitar 1.200 karyawan pada 2024, dan menggantinya dengan AI, namun belakangan mengaku kebablasan dan kini membuka rekrutmen lagi.
IBM pun melakukan langkah yang sama, setelah memangkas ribuan karyawan, perusahaan berencana melipatgandakan perekrutan entry level, hingga tiga kali lipat pada 2026.
Apa yang membuat perusahaan-perusahaan besar ini berbalik arah? Vice President of Vehicle Hardware Engineering Ford, Charles Poon, mengakui perusahaan salah mengira bahwa AI yang dilatih dengan persyaratan desain yang ada, akan otomatis menghasilkan produk berkualitas tinggi.







