WARTABANJAR.COM – Akibat kenaikan biaya produksi, sejumlah produsen seperti Transsion, Oppo, Vivo, Honor, dan Xiaomi, mulai menaikkan harga beberapa produknya demi menjaga margin keuntungan.
Namun, strategi tersebut berisiko mengurangi permintaan karena konsumen di segmen smartphone murah umumnya lebih sensitif terhadap kenaikan harga.
Salah satu yang membuat kenaikan harga ponsel adalah chip memori DRAM dan NAND diperkirakan semakin menekan pasar smartphone murah sepanjang 2026.
Kondisi ini membuat produsen kesulitan mempertahankan harga jual perangkat, sehingga mulai mengurangi fokus pada segmen tersebut.
Firma riset pasar Omdia memperkirakan, jumlah pengiriman smartphone dengan harga di bawah 400 dollar AS (sekitar Rp7,1 juta) akan turun lebih dari 22 persen secara global pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Omdia, penyebab utamanya adalah lonjakan harga memori yang membuat biaya produksi smartphone meningkat tajam, terutama untuk perangkat kelas bawah.
Analis Omdia, Zaker Li, mengatakan bahwa tekanan terhadap segmen smartphone murah diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa kuartal mendatang, seiring harga memori yang belum menunjukkan tanda-tanda turun.
Baca Juga: Telah Dibuka Program Beasiswa dari Kampus di Amerika Serikat bagi Para Gamer
Baca Juga: Cuma 19 Unit, Galaxy Z Fold 8 Ultra dan iPhone 17 Pro Edisi Messi-Ronaldo Dijual Rp200 Jutaan
“Produk kelas bawah kini semakin sulit menghasilkan keuntungan sehingga vendor secara bertahap mulai mundur dari segmen tersebut pada tahun ini,” tulis Omdia dalam laporannya.







