Rupiah Tembus Rp 18.000/Dolar AS, BI Lakukan Sejumlah Langkah Intervensi

Di samping itu, kebutuhan valas di dalam negeri masih cukup besar, sesuai dengan pola musiman repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN).

BACA JUGA: Nilai Tukar Rupiah Anjlok di Level Rp. 17.602, Prabowo Sebut Orang Desa Tak Pakai Dolar

BACA JUGA: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS Melemah karena Faktor ini

Genjot Transaksi Mata Uang Lokal (LCT)

Pelemahan rupiah, imbuhnya, secara umum sebenarnya masih sejalan dengan mata uang regional, dengan pelemahan secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd) sebesar -7,44 persen.

Di sisi lain, BI memastikan cadangan devisa Indonesia tetap terjaga, yakni berada pada level US$146,2 miliar pada akhir April 2026.

Sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar, BI terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Kerja sama tersebut sejauh ini telah terjalin dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

“Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan.

Di bulan April nilainya mencapai sekitar US$22,7 miliar, dibandingkan full year tahun lalu yang sebesar US$25,7 miliar,” pungkas Destry.

Dengan kata lain, BI terus berupaya menggenjot penggunaan mata uang lokal. (wartabanjar.com/berbagai sumber)

Editor: Yayu