Kasus ini bukan lagi mengenai satu orang yang dizalimi. Saya dipenjara atau tidak, saya dimiskinkan atau tidak, itu sudah di tangan Tuhan, dan di tangan Yang Mulia. Tapi momen ini, momen dalam sejarah ini, milik kita semua. Di balik setiap kekecewaan kita sebagai warga negara Indonesia, di balik setiap jeritan kita untuk keadilan, adalah suara batin halus yang melandasi kritik tersebut. Semua kritik datang dari kepedulian, dan semua kepedulian datang dari rasa cinta. Kami berteriak untuk keadilan karena rakyat masih cinta dengan negara ini. Saya, masih cinta dengan negara ini.

Negara kita negara yang kuat. Yang akan meruntuhkan negara ini, bukan kelangkaan pekerjaan, bukan kelangkaan investasi, bahkan bukan kelangkaan talenta. Yang akan meruntuhkan negara ini adalah kelangkaan HARAPAN. Majelis yang terhormat, di tengah segala kesulitan yang dialami negara kita, Yang Mulia diberikan kesempatan untuk memberikan harapan baru untuk Indonesia. Dengan rasa hormat, dengan segala kerendahan hati, saya mohon kepada Majelis Hakim: berikanlah harapan itu kepada kami.

Terima kasih yang sebesar-besarnya.

Wassalamuailakum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Baca Juga: Artikel 4: Naskah Lengkap Pleidoi Nadiem Makarim, Masa Lalu Bertengkar dengan Masa Depan

Baca Juga: Artikel 3: Naskah Lengkap Pleidoi Nadiem Makarim, yang Tersisa Hanya Narasi Kecurigaan

Baca Juga: Artikel 2: Naskah Lengkap Pleidoi Nadiem Makarim, Tangan Tuhan Bergerak

Baca Juga: Artikel 1: Naskah Lengkap Pleidoi Nadiem Makarim, Dunia Terasa seperti Berakhir

(wartabanjar.com)