BPOM Investigasi Misteri Skin Booster Berbahan "Kulit Mayat"
WARTABANJAR.COM, JAKARTA - Benar tidaknya penggunaan bahan "kulit mayat" pada perawatan kecantikan skin booster asal Korea Selatan (Korsel) masih misterius.
Untuk mengungkap kabar yang viral itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) turun tangan untuk membuktikan kebenarannya.
Bahkan, BPOM menurunkan tim khusus yang akan melakukan penelusuran dan investigasi di lapangan.
Tim khusus tersebut melibatkan dua unit kerja di BPOM, yakni Kedeputian 1 (Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, Zat Adiktif) serta Kedeputian 4 (Bidang Penindakan).
"Ya sekarang lagi diinvestigasi sama Kedeputian 1 dan Kedeputian 4. Kami sudah dengar laporan itu," kata Kepala BPOM, Taruna Ikrar di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Ia menegaskan, langkah itu itu diambil karena kabar skin booster berbahan "kulit mayat" viral di medsos.
Guna memastikan keamanan dan legalitas produk tersebut, maka dilakukan penelusuran dan investigasi.
"Kami harus turun ke lapangan untuk melihat produk-produk tersebut. Ada laporan dari media sosial, dari situ kita tanggapi. Saya sudah perintahkan Deputi 4 dan Deputi 1 untuk timnya turun investigasi," kata Taruna Ikrar.
Baca Juga: Cekcok Tarif Open BO, Penjual Mi Ayam Nekat Bunuh Perempuan Hamil
Baca Juga: Usai Karaoke, Mahasiswi Tewas di Hotel karena Dipaksa Konsumsi Narkoba
Apabila berdasar hasil investigasi, memang ditemukan adanya pelanggaran hukum, tentu akan dikenai Tindakan tegas.
"Yang jelas, kalau mereka melanggar aturan hukum ya kita hukum," ucapnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi Indonesia (PERDOSKI) Dr dr Hanny Nilasari membenarkan, bahan tersebut memang berasal dari donor jaringan kulit manusia.
Namun, belum dapat dipastikan donor kulit tersebut diambil dari manusia yang masih hidup atau jenazah (kadaver).
"Jadi, (terbuat dari) matriks jaringan kulit yang berasal dari donor. Tapi donornya memang donor yang kita enggak tahu apakah itu donor hidup, apakah donor mati," ungkapnya seperti dilansir Detik.com.
Menurut Hanny, pada dasarnya produk yang dimaksud menggunakan Human Acellular Dermal Matrix (hADM).