Kemenkes Beberkan Diagnosis Gejala Hingga Masa Inkubasi Hantavirus
Pemeriksaan koagulasi, D-dimer, fibrinogen, CRP, prokalsitonin, laktat, gas darah, elektrolit, albumin, dan LDH membantu membedakan hantavirus dari sepsis, dengue berat, leptospirosis, atau pneumonia berat, sekaligus memantau risiko syok dan disfungsi organ.
Pada HPS/HCPS, foto toraks dapat menunjukkan edema paru bilateral atau infiltrat interstisial-alveolar.
CT dada dapat membantu bila gambaran klinis tidak jelas.
Pada HFRS, USG ginjal dapat membantu menilai pembesaran ginjal, edema, atau komplikasi lain, meski tidak spesifik.
Ekokardiografi bermanfaat pada syok atau dugaan keterlibatan jantung.
Pemeriksaan laboratorium tidak boleh berdiri sendiri.
Pada fase awal, angka-angka dapat belum lengkap.
Sebaliknya, ketika pasien memasuki fase kritis, perubahan dapat berlangsung cepat.
Karena itu, monitoring serial lebih penting daripada satu hasil tunggal. (wartabanjar.com/berbagai sumber)
Editor: Yayu