36 Ton Sampah Tak Terangkut Tiap Hari, Pemkab HST Percepat TPS3R dan Modernisasi TPA
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Sekitar 75 ton sampah setiap hari dibuang masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Provinsi Kalimantan Selatan.
Namun dari jumlah tersebut, baru sekitar 39 ton atau 52 persen yang terangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Sementara 36 ton lainnya menumpuk di Tempat Penampungan Sementara (TPS) atau berhamburan di banyak tempat.
Pemerintah kabupaten (Pemkab) kini mempercepat pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) serta pengembangan Bank Sampah hingga tingkat desa untuk mengurangi sampah yang berakhir di TPA.
Mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) HST H Mursyidi, Kepala Bidang Persampahan, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas Muhammad Fadillah mengatakan TPA bukan tempat menampung seluruh sampah.
“Fungsi TPA sebenarnya hanya untuk menampung residu yang sudah dipilah,” ujar Fadillah di Barabai, Kamis (13/8/2026).
Baca juga: Perjuangan Pak Uhor, Lansia 67 Tahun Asal Bandung Jualan Bendera Merah Putih di Pelaihari
Menurut Fadillah, pengelolaan sampah perlu dilakukan sejak dari sumbernya.
Masyarakat didorong memilah sampah dari rumah sebelum dibawa ke fasilitas pengolahan.
Sementara itu, di kawasan TPA Telang, pemerintah daerah tengah membangun sarana pengolahan sampah dan fasilitas pengurukan residu.
Pembangunan tersebut ditargetkan rampung pada Desember 2026.
Fasilitas yang disiapkan mencakup mesin pemilah, instalasi pengolahan kompos serta budidaya maggot untuk mengolah sampah organik menjadi pakan ternak.
“Sesuai regulasi nasional, per tahun 2027 konsep TPA konvensional akan dihapus dan berganti menjadi Lahan Urukan Residu yang ketat,” kata Fadillah.
Baca juga: Lewat 7 Agustus Pemadaman Listrik di HST Masih Terjadi, PLN Ungkap Gangguan PLTU TPI
Pengelolaan sampah berbasis masyarakat juga mulai dikembangkan. Desa Matang Ginalon menjadi salah satu lokasi yang dijadikan proyek percontohan pengolahan sampah terpadu.
“Pilot project di Desa Matang Ginalon menjadi acuan bagaimana pengolahan terpadu berbasis masyarakat dapat diterapkan secara mandiri,” ujarnya.
Fadillah berharap pola pengelolaan tersebut dapat diterapkan lebih luas sehingga masyarakat terbiasa memilah sampah sebelum dibuang.