“Yang saya lihat pertama itu orangnya ulet, jujur, pekerja keras, dan penuh kasih sayang. Modal dasarnya sudah ada semua,” ujar Asih.
Menurutnya, keberanian Taofik memulai usaha dari nol menjadi nilai lebih. Ia menilai tidak semua orang berani keluar dari zona nyaman untuk merintis usaha sendiri.
“Banyak orang pilih kerja saja di zona nyaman. Tapi dia berani berjuang dari nol. Itu yang saya lihat,” katanya.
Asih juga melihat usaha pengelolaan sampah plastik yang dirintis suaminya memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan memberi dampak luas.
Bertahan di Titik Terendah
Masa-masa terberat terjadi ketika usaha Taofik mengalami kegagalan berulang akibat penipuan dan tekanan utang. Di titik terendah itulah, peran Asih menjadi penopang utama.
“Yang bisa saya berikan waktu itu cuma kepercayaan dan motivasi. Saya percaya ini pasti berlalu kalau kita hadapi dengan sikap positif,” tuturnya.
Asih menyadari bahwa uang yang dipinjam bukan untuk kebutuhan konsumtif, melainkan murni untuk usaha. Ia pun paham bahwa dunia usaha tak lepas dari jatuh dan bangun.
“Namanya orang usaha, pasti ada jatuh bangunnya. Yang penting kita masih lihat potensi ke depan dan masih yakin,” ujarnya.
Bahkan, Asih sempat “menguji” keyakinan suaminya dengan menyarankan berjualan pecel ayam.
“Itu sebenarnya cuma untuk menguji dia. Seberapa yakin dengan usaha ini. Kalau dia bilang nggak yakin, ya sudah. Tapi ternyata dia masih yakin. Dari situ saya support penuh,” katanya.







