WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Perjalanan hidup Taofik Hidayat sebagai pengusaha pengelolaan sampah plastik bukanlah kisah yang instan. Dimulai dari hidup di atas rel kereta api yang sudah tak terpakai di kawasan Ancol, Jakarta, Taofik membangun usaha recycle journey plastic dari nol hingga kini mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Tahun 2011 menjadi titik awal perubahan hidupnya. Saat itu, Taofik hidup di lingkungan keras dan penuh tekanan. Ia mengaku pernah menghadapi preman, bahkan sempat diancam menggunakan senjata tajam hanya karena tidak memiliki uang.
“Celurit itu sempat di leher saya. Karena waktu itu saya memang nggak pegang duit,” ungkap Taofik mengenang masa lalunya.
Di tengah kondisi tersebut, Taofik justru melihat peluang dari sesuatu yang dianggap tak bernilai oleh banyak orang: sampah plastik. Ia melihat bagaimana orang-orang yang hidup di kolong jembatan mampu bertahan hidup dari aktivitas mengumpulkan sampah.
“Saya lihat, kok orang-orang yang tinggal di kolong mobilnya bagus-bagus. Dari situ saya mikir, pasti ada nilai ekonominya,” ujarnya.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Taofik mulai mengumpulkan sampah plastik secara mandiri. Modal awal diperoleh dari pinjaman keluarga dan bank. Bahkan, ia mengaku usaha tersebut mempertaruhkan masa depan keluarganya.
“Kalau nggak kuat bayar cicilan, risikonya keluarga saya digusur,” katanya.
Namun perjalanan usahanya penuh ujian. Di tahun-tahun awal, Taofik berkali-kali mengalami kerugian akibat penipuan. Uang muka sudah dibayarkan, tetapi barang tak kunjung dikirim. Saat ditagih, ia justru mendapat ancaman.

