Dari Rel Kereta hingga Jadi Pengusaha Sampah Plastik: Perjalanan Panjang Taofik Hidayat

Taofik mengaku, pencapaian yang diraihnya saat ini tak lepas dari peran sang istri dan keluarga yang selalu memberikan dukungan, bahkan saat dirinya berada di titik terendah.

“Alhamdulillah, saya punya istri yang hebat. Waktu saya jatuh, dia bilang ayo jalan lagi. Nggak semua istri mau,” ujarnya.

Saat ini, kerja sama dengan pemerintah masih sebatas penyuluhan dan dukungan tidak langsung. Namun Taofik sudah menjalin kemitraan dengan sejumlah bank sampah yang rutin mengirimkan hasil pengumpulan plastik ke tempat usahanya.

“Ke depan saya berharap bisa lebih sinergi dengan pemerintah dan pihak lain, supaya pengelolaan sampah ini bisa lebih besar dan lebih bermanfaat,” pungkasnya.

Melihat Potensi dari Nol

Istri Taofik, Asih, mengaku ketertarikannya pada sang suami bukan karena materi, melainkan karakter dan semangat juangnya.

“Yang saya lihat pertama itu orangnya ulet, jujur, pekerja keras, dan penuh kasih sayang. Modal dasarnya sudah ada semua,” ujar Asih.

Menurutnya, keberanian Taofik memulai usaha dari nol menjadi nilai lebih. Ia menilai tidak semua orang berani keluar dari zona nyaman untuk merintis usaha sendiri.

“Banyak orang pilih kerja saja di zona nyaman. Tapi dia berani berjuang dari nol. Itu yang saya lihat,” katanya.

Asih juga melihat usaha pengelolaan sampah plastik yang dirintis suaminya memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan memberi dampak luas.

Bertahan di Titik Terendah

Masa-masa terberat terjadi ketika usaha Taofik mengalami kegagalan berulang akibat penipuan dan tekanan utang. Di titik terendah itulah, peran Asih menjadi penopang utama.

“Yang bisa saya berikan waktu itu cuma kepercayaan dan motivasi. Saya percaya ini pasti berlalu kalau kita hadapi dengan sikap positif,” tuturnya.

Asih menyadari bahwa uang yang dipinjam bukan untuk kebutuhan konsumtif, melainkan murni untuk usaha. Ia pun paham bahwa dunia usaha tak lepas dari jatuh dan bangun.

“Namanya orang usaha, pasti ada jatuh bangunnya. Yang penting kita masih lihat potensi ke depan dan masih yakin,” ujarnya.

Bahkan, Asih sempat “menguji” keyakinan suaminya dengan menyarankan berjualan pecel ayam.

“Itu sebenarnya cuma untuk menguji dia. Seberapa yakin dengan usaha ini. Kalau dia bilang nggak yakin, ya sudah. Tapi ternyata dia masih yakin. Dari situ saya support penuh,” katanya.

Dukungan Doa dan Nilai Religius

Asih menilai, salah satu kekuatan utama Taofik adalah sikap religius yang selalu dijaga di tengah kesibukan usaha.

“Sesibuk apa pun, dia tidak pernah meninggalkan sholat,” ujarnya.

Dukungan yang diberikan Asih pun tak berhenti pada materi, melainkan doa dan kepercayaan penuh.

“Saya bantu doa. Itu power paling besar,” katanya.

Kini, usaha recycle journey plastic yang dijalankan Taofik terus berkembang dan mendapat dukungan masyarakat sekitar. Lingkungan RT dan RW menyambut positif karena usaha tersebut membuka lapangan pekerjaan dan memberi penghasilan bagi warga. (Wartabanjar.com/andi)

Editor: Andi Akbar