“Saya sampai kolaps. Duit bank habis, barang nggak ada,” tuturnya.
Di titik terendah, sang istri sempat menyarankan agar ia berhenti dan beralih profesi. Bahkan gerobak untuk berjualan sudah dibeli. Namun dengan dukungan keluarga, Taofik kembali bangkit dan memulai usaha dari skala kecil. Ia mencari barang sendiri, mengangkut sendiri, dan menjual sendiri.
Perubahan signifikan terjadi saat ia memutuskan membeli mesin press sampah plastik dengan modal sekitar Rp50 juta. Dari sanalah usahanya mulai berkembang. Ia juga bernegosiasi dengan pihak bank agar cicilan kredit bisa disesuaikan dengan kemampuan.
“Yang penting dibayar. Pelan-pelan tapi jalan,” ujarnya.
Perluas Usaha, Jaga Lingkungan
Saat ini, usaha pengelolaan sampah plastik yang dijalankan Taofik sudah berkembang dengan buka tempat baru di sukabumi, tempat pengelolaan sampah sukabumi ini baru berjalan sekitar delapan hingga sembilan bulan. Ia menegaskan, kegiatan tersebut tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Justru sebaliknya, membantu mengurangi tumpukan sampah dan membuka peluang ekonomi.
“Awalnya memang untuk bisnis, tapi juga untuk memperkerjakan warga sekitar,” katanya.
Sebagian besar pekerja di tempat usahanya merupakan warga lokal. Dukungan dari lingkungan pun mengalir, mulai dari RT, RW hingga masyarakat sekitar yang merasakan manfaat ekonomi langsung.
“RT RW benar-benar dukung. Warga punya penghasilan. Bahkan mereka bilang, mudah-mudahan usaha ini maju,” ujarnya.







