Warga sekitar Pondok Pesantren Al Khoziny turut berduka. Ratusan masyarakat berdatangan ke lokasi membawa doa dan bantuan makanan untuk tim evakuasi.

Berdasarkan informasi dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sidoarjo, musala dan asrama yang ambruk itu dibangun sekitar tahun 2015 dan belum pernah mengalami renovasi besar.

Sejumlah sumber internal menyebut bahwa kondisi struktur bangunan sudah retak sejak beberapa bulan lalu, terutama di bagian dinding sisi barat dan atap utama. Namun, peringatan untuk melakukan pemeriksaan ulang belum sempat ditindaklanjuti.

“Bangunan lama yang menampung banyak orang seharusnya diperiksa minimal setiap lima tahun. Apalagi untuk fungsi publik seperti pondok pesantren,” jelas Ir. Hendro Wicaksono, ahli konstruksi dari Universitas Negeri Surabaya.

Menurut Hendro, dari foto-foto lapangan yang beredar, terlihat bahwa balok penyangga utama kemungkinan tak mampu menahan beban vertikal atap dan tambahan struktur baru. Jika benar demikian, indikasi kegagalan struktural (structural failure) menjadi penyebab utama ambruknya musala.

Analisis: Lemahnya Pengawasan Bangunan

Kasus Pondok Pesantren Al Khoziny bukan yang pertama. Dalam lima tahun terakhir, setidaknya tercatat 18 insiden serupa di berbagai pesantren di Indonesia — mulai dari ambruknya atap, dinding, hingga runtuh total bangunan akibat konstruksi tak memenuhi standar.

Sebagian besar pondok pesantren membangun fasilitas secara swadaya, dengan material seadanya dan tanpa pengawasan teknis dari instansi terkait.

“Banyak ponpes menggunakan bantuan donatur, bukan dana pemerintah, jadi proses konstruksi sering tak melalui perizinan resmi atau audit teknis,” ungkap Hendro lagi.

Kondisi itu membuat ribuan santri di seluruh Indonesia berpotensi menghadapi risiko serupa — belajar dan tidur di bawah bangunan yang mungkin tidak layak struktur.

Kini, reruntuhan di Al Khoziny menjadi saksi bisu duka mendalam. Di tengah tangis dan doa, nama Nur Ahmad menjadi simbol ketabahan — bukan hanya bagi para santri, tapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menyatakan akan melakukan audit total terhadap seluruh bangunan pesantren di wilayahnya, memastikan kejadian serupa tidak terulang.