Indonesia Disebut-sebut Jadi Tempat Teramam Kalo Pecah PD III, Netizen: "Aman dari Rudal, Gak Aman dari Pejabat!"
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Media Inggris Daily Mail baru-baru ini menyebut Indonesia sebagai salah satu negara teraman untuk berlindung jika Perang Dunia III pecah. Penilaian ini didasarkan pada posisi politik luar negeri Indonesia yang netral, bebas aktif, serta faktor geografis dan sumber daya alam yang mendukung.
Sejak kemerdekaan, Indonesia dikenal sebagai negara non-blok yang enggan berpihak dalam konflik global. Ditambah lagi, letaknya yang berjauhan dari episentrum ketegangan dunia seperti Eropa Timur dan Timur Tengah membuat Indonesia dipandang relatif aman dari serangan langsung.
Tak hanya secara politik, posisi strategis Indonesia sebagai negara kepulauan juga dianggap menguntungkan. Jika jalur transportasi laut global terganggu akibat konflik besar, ketersediaan tanah subur dan air bersih yang melimpah bisa membantu masyarakat bertahan.
BACA JUGA:DUNIA PANIK! Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Siap Melonjak, Dampaknya Bagi Indonesia?
Selain Indonesia, laporan Daily Mail juga menyebut kawasan seperti Antartika dan Fiji sebagai tempat alternatif perlindungan dari ancaman global.
Namun di tengah kabar ini, warganet justru menyambutnya dengan beragam reaksi, dari satir hingga doa tulus:
“Aman dari perang sih, tapi nggak aman dari pejabat korup.”
“Kalau ekspor-impor lumpuh karena perang, kita juga bakal kena dampaknya. Inflasi, krisis pangan, semua ikut naik.”
“Yang penting sih sekarang dukung Palestina dan Iran, jangan cuma mikirin tempat ngungsi.”
“Sebelum WW3 pecah, Indonesia juga masih punya ancaman kayak megathrust. Jadi yaa… aman relatif.”
Di sisi lain, ada pula yang tetap optimis bahwa adaptabilitas masyarakat Indonesia menjadi modal kuat dalam menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian.
“Dengan budaya gotong royong dan sumber daya yang kita punya, Indonesia bisa jadi oase damai di tengah konflik dunia.”(Wartabanjar.com/Daily Mail/taubatters/berbagai sumber)
editor: nur muhammad