Transformasi Gunung Gundul Menjadi Desa Gunung Makmur yang Mendatangkan Kemakmuran Pascatransmigrasi Tahun 1953
WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Kehidupan sosial dan perekonomian warga Desa Gunung Makmur kini semakin berkembang pesat, meski dihuni oleh masyarakat dari latar belakang suku yang beragam.
Desa yang berada di wilayah Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut ini, berawal dari pemekaran Desa Takisung pada tahun 1978.
Wilayah ini dahulunya merupakan areal hutan yang ditandai dengan keberadaan bukit besar gundul, yang kerap diidentikkan warga dengan suasana angker dan hal gaib, hingga dinamai Gunung Gundul.
Seiring berjalannya waktu, hamparan tanah luas di lereng bukit kiri dan kanan jalan diolah masyarakat menjadi lahan pertanian palawija, sawah, perkebunan cengkeh, hingga kini berkembang ke sawit, karet, dan peternakan.
Mengenai komposisi dan asal-usul warga di kawasan sekitar, Sekretaris Desa (Sekdes) Bumi Makmur, Surya, memberikan gambaran perbedaan demografi asal daerah para transmigran.
"Disini rata rata Jawa Timur, kalau di Sumber Makmur rata rata Jawa Tengah," kata Surya.
Sementara itu, Kepala Dusun 2 Desa Gunung Makmur, Sutarno, menceritakan kembali awal mula masuknya gelombang transmigrasi pada tahun 1953, yang menjadi cikal bakal permukiman kawasan tersebut.
Baca Juga: Menolak Lupa Jasa Senior, Satlantas Polres Tanah Laut Sambangi Rumah Purnawirawan
Baca Juga: Sisa Kemiskinan Ekstrem Ingin Dihapus, Pemkab Tanah Laut Garap Strategi Lintas Sektor Baru
"Kalau untuk Desa Gunung Makmur itu di tahun 1953, transmigrasi dari Jawa Tengah dan Jawa Timur sekitar 300 KK. Rata-rata dari Kediri, ada yang dari Blitar, ada yang dari Jawa Tengah," kata Sutarno.
Meskipun pada sejarahnya sempat terjadi dinamika, di mana sebagian transmigran berpindah lokasi akibat keterbatasan fasilitas dan lahan pada masa awal pembukaan pemukiman, warga yang bertahan berhasil mengolah tanah hingga mendatangkan kemakmuran.
Sutarno menyebutkan, bahwa generasi awal pendatang tersebut kini telah digantikan oleh para keturunannya.
"Kalau sekarang yang ada ini sudah keturunan semua, kalau yang aslinya sudah banyak yang meninggal," lanjut Sutarno.