Sempat Pingsan Usai Padamkan Karhutla, Relawan Tim Serbu Api Palangkaraya Meninggal
WARTABANJAR.COM, PALANGKARAYA - Di tengah upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalteng, kabar duka datang dari relawan Tim Serbu Api Kecamatan Jekan Raya, Palangkaraya.
Ketua mereka yang aktif dalam pemadaman Karhutla di Kalteng terutama Palangkaraya, meninggal dunia.
Meninggalnya Ketua Tim SErbu Api Kecamatan Jekan Raya, Akhmad Rizani ini terungkap dari ucapan duka cita yang diunggah Emergency Response Palangkaraya (ERP) di akun Instagramnya, Kamis (27/8/2026).
Unggahan duka cita ini langsung mendapat respons ratusan netizen yang ikut berduka cita.
Ketua ERP, Jean Steve Austen saat dihubungi via telepon membenarkan kabar duka tersebut.
Ia mengungkapkan Akhmad Rizani meninggal pada Kamis (27/8/2026) siang.
Mengenai penyebab meninggalnya relawan yang aktif ikut dalam upaya pemadaman karhutla ini diduga karena kelelahan.
"Kabarnya kelelahan tetapi ada tidaknya penyakit lain, kami belum mengetahui," ujar Jean Steve Austen.
Informasi yang diperoleh Jean Steve menyebutkan kondisi kesehatan Akhmad Rizani menurun setelah ikut memadamkkan Karhutla di kawasan Jalan Rungan, Palangkaraya.
Bahkan, ia sempat pingsan sehingga dibawa ke RS Betang Pambelum.
Di rumah sakit itulah, Akhmad Rizani menghembuskan napas terakhirnya sebelum dibawa ke rumah duka di Jalan Mendawai IV, Palangkaraya.
Baca Juga: Polres Banjarbaru Dalami Penyebab Karhutla di Jalur Menuju Bandara Syamsudin Noor
Baca Juga: 50 Pompa Air dari Presiden Prabowo Tiba di Kalteng, Perkuat Pemadaman Karhutla
KONDISI KARHUTLA DI KALTENG
Hingga Minggu (23/8/2026), berdasarkan data Posko Penanganan Darurat Bencana (PDB) Karhutla Kalteng, tercatat ak 1.739 kejadian Karhutla dengan total luas lahan terbakar 4.920,20 hektare.
Daerah dengan luasan Karhutla terbesar adalah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang mencapai 1.686,36 hektare dari 374 kejadian karhutla.
Kemudian Kabupaten Seruyan seluas 405,82 hektare dari 146 kejadian dan Kota Palangkaraya dengan 484,20 hektare dari 474 kejadian.
Sementara Kabupaten Kapuas mencatat 350,04 hektare dengan 116 kejadian kemudian Kotawaringin Barat (Kobar) 508,49 hektare dari 183 kejadian, dan Kabupaten Pulang Pisau 261,08 hektare dengan 52 kejadian.