WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Wacana pengemudi ojek online (ojol) masuk kategori Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang muncul dari Kementerian UMKM ikut menjadi perhatian di Kalimantan Selatan.

Bagi driver yang setiap hari mengandalkan orderan, wacana tersebut punya arti berbeda.

Ada yang menilai kategori itu tidak diperlukan, sementara driver lainnya menyambutnya positif.

Jumi, salah satu driver ojol di Kalsel, menilai pengemudi tidak perlu dikategorikan sebagai pelaku UMKM. 

Ia beranggapan pola kerja ojol sudah memiliki fleksibilitas tersendiri karena pengemudi bebas menentukan waktu bekerja.

“Kalau kami atur sendiri kapan onbid dan offbid tanpa harus menjadi kategori UMKM,” ujarnya, Kamis (20/8/2026). 

Jumi sudah menjalani pekerjaan sebagai driver sejak 2019.

Dalam kesehariannya, ia menerima orderan di wilayah Martapura, Banjarbaru hingga Banjarmasin.

Baca Juga BEM se-Kalsel Geruduk Gedung DPRD Kalsel, Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin Ditutup

Baca Juga Pelajar 15 Tahun Tenggelam Saat Mandi di Sungai Pamarangan Kanan Tabalong

Sebagai mitra Gojek, Jumi saat ini lebih banyak mengambil order GoRide dan GoSend. 

Namun, di tengah pekerjaannya itu, ia mengaku pendapatan yang diterima justru mengalami penurunan.

“Untuk saat ini, ulun pribadi merasakan penurunan pendapatan sekitar 35 persen,” katanya.

Menurut Jumi, pembagian order menjadi salah satu hal yang dirasakan berdampak terhadap pendapatannya. 

Ia menyebut driver yang sebelumnya tidak mengaktifkan layanan GoRide kini ikut mengaktifkannya sehingga persaingan mendapatkan order semakin terbagi.

Selain persoalan order, pengalaman di lapangan juga kerap membuat penyelesaian pesanan menjadi lebih panjang.

“Customer memaksakan diantarkan ke ruangan, sedangkan aturan rumah sakit melarang pengemudi ojek online untuk memasuki area rumah sakit,” ungkapnya.

Pengemudi hanya diperbolehkan mengantar sampai lobi rumah sakit. 

Kondisi ini membuat waktu penyelesaian order terkadang menjadi lebih panjang, terutama ketika pelanggan tetap meminta diantar hingga ruangan.

“Kadang-kadang akhirnya harus membatalkan orderan yang berdampak pada akun,” kata Jumi.

Cerita berbeda datang dari M Hamidi, driver ojol yang telah menjalani pekerjaan tersebut sejak Agustus 2017.