Kisah Hamidhan Sebarkan Kabar Kemerdekaan di Kalimantan, Berjuang Lawan Sensor Jepang
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di Jakarta pada 17 Agustus 1945.
Namun, pada masa ketika radio, surat kabar, dan jaringan komunikasi masih berada dalam pengawasan Jepang, kabar tentang Proklamasi Kemerdekaan tidak serta-merta diketahui seluruh rakyat di berbagai daerah.
Di Kalimantan, berita itu menempuh perjalanan yang tidak sederhana. Salah satu orang yang berada di tengah perjalanan sejarah tersebut adalah Anang Abdul Hamidhan (A.A Hamidhan).
Ia adalah wartawan asal Kalsel yang menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Hamidhan bukan sekadar mendengar kabar kemerdekaan dari Jakarta. Ia menyaksikan sendiri detik-detik Proklamasi, kemudian membawa berita tersebut pulang ke Kalimantan.
Kisahnya memperlihatkan bagaimana seorang wartawan memainkan peran penting ketika informasi menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Hamidhan lahir di Rantau, Tapin, Kalsel pada 25 Februari 1909. Dunia pers sudah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya sejak usia muda.
Ia pernah terlibat dalam sejumlah penerbitan dan kemudian dikenal sebagai pendiri surat kabar Soeara Kalimantan.
Pada masa pendudukan Jepang, Hamidhan juga terlibat dalam penerbitan Borneo Simboen, surat kabar yang berada dalam lingkungan kontrol pemerintahan pendudukan.
Pengalaman panjang di dunia jurnalistik membuat Hamidhan memiliki jaringan luas dan memahami arti penting informasi bagi masyarakat.
Menjelang Indonesia merdeka, perannya semakin strategis. Ia ditunjuk menjadi anggota PPKI sebagai wakil Kalimantan.
Sejumlah catatan sejarah menyebut Hamidhan berangkat menuju Jakarta pada 15 Agustus 1945 melalui Surabaya.
Posisi itu membuatnya menjadi tokoh Kalimantan yang berada sangat dekat dengan proses kelahiran Republik.
Pada malam menjelang Proklamasi, Hamidhan bersama sejumlah anggota PPKI dari daerah lain berada di kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jakarta.
Di tempat tersebut berlangsung pembahasan mengenai rumusan Proklamasi. Hamidhan menjadi salah satu tokoh dari luar Jawa yang menyaksikan langsung proses yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.
Keesokan harinya, 17 Agustus 1945, Hamidhan kembali menyaksikan langsung pembacaan Proklamasi oleh Soekarno didampingi Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.