Komisi 1 DPRD Kalsel Singgung Kehidupan "Normal" Saat Karhutla dan BBM Pemadam
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Viralnya pernyataan kehidupan masyarakat Kalimantan termasuk Kalsel tetap normal maski terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menimbulkan kabut asap tebal, disinggung dalam rapat DPRD Kalsel.
Ketua Komisi 1, H Rais Ruhayat menyinggung hal tersebut saat memimpin rapat kerja dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Kamis (24/9/2026).
Ia pun menyebut permasalahan Karhutla bukan sekadar api dan peralatan untuk memadamkannya, tetapi juga terkait masalah hukum dan Kesehatan.
Ditegaskan Rais Ruhayat, fakta yang terjadi Kalsel saat ini, kualitas udara dan kekeringan sudah sangat memprihatinkan.
Baca Juga: Komisi III DPRD Kalsel Kritisi Anggaran Perlengkapan dan Pemeliharaan Jalan
Baca Juga: DPRD Kalsel Siapkan Perubahan Tatib, Ketua Pansus: Agar Selaras dengan Aturan Lebih Tinggi
Kondisi ini sangat berdampak baik terhadap kehidupan warga maupun upaya petugas yang berusaha keras memadamkan Karhutla.
“Jarak pandang juga sangat parah, kualitas udara sudah sangat mempengaruhi kesehatan, bahkan sekarang anak-anak banyak mengalami ISPA (Inspeksi Saluran Pernapasan Akut). Banyak sekolah diliburkan. Dampaknya juga berpengaruh ke permasalahan ekonimi," ucapnya.
“Saat ini sudah bukan bicara pencegahan lagi, tapi bagaimana penanganan dan dampaknya ke masyarakat. Bagaimana dua bulan ke depan ini program apa dari BPBD?” tanya Rais Ruhayat ke BPBD Kalsel.
Menanggapi itu, Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra mengatakan puncak El Nino belum tiba.
“El Nino saat ini bukan puncaknya, puncaknya tahun 2027 nanti. Ini siklus empat tahunan,” ujar Ronny.
Selain itu, perlunya perhatian Bersama terhadap dampak Kesehatan dengan melonjaknya pasien ISPA dan diare akibat krisis air bersih di permukiman.
Ia juga mengungkapkan operasi gabungan darat dan udara terus berjalan di wilayah prioritas dari Barito Kuala, Banjarbaru hingga Tanah Laut.
Namun Ronny mengungkap kebutuhan paling mendesak yang menghambat kerja yakni solar.
“Kami perlu solar saja dulu yang urgent untuk bekerja, kalau soal uang harian, ya sudahlah, yang penting solar dulu.” katanya.