Kisah Hamidhan Sebarkan Kabar Kemerdekaan di Kalimantan, Berjuang Lawan Sensor Jepang
Baca Juga: Kumpulan Ucapan Puitis dan Motivatif HUT Ke-81 Hari Kemerdekaan, Cocok untuk Medsos
Baca Juga: Superman Ikut Tangani Karhutla Kalteng Sepulang Sekolah
Bagi Hamidhan, peristiwa itu bukan sekadar catatan sejarah yang kelak dibaca di surat kabar. Ia menjadi saksi mata lahirnya negara yang kemudian harus ia kabarkan kepada masyarakat di tanah kelahirannya.
Setelah Proklamasi, Hamidhan masih berada di Jakarta mengikuti sidang-sidang PPKI.
Pada 18 dan 19 Agustus 1945, para anggota PPKI membahas berbagai hal mendasar untuk membangun pemerintahan Republik.
Dalam proses tersebut, Hamidhan bahkan sempat mendapat tawaran menjadi gubernur untuk wilayah Kalimantan. Namun, ia memilih menolak.
Hamidhan justru mengusulkan Ir. Pangeran Mohammad Noor untuk memimpin Kalimantan.
Ia memilih tetap berada di dunia pers, bidang yang selama ini menjadi jalan perjuangannya.
Pangeran Mohammad Noor kemudian ditetapkan sebagai gubernur pertama Kalimantan.
Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa bagi Hamidhan, perjuangan tidak selalu harus dilakukan melalui jabatan pemerintahan.
Pers juga dapat menjadi alat untuk mempertahankan dan menyebarkan gagasan kemerdekaan.
Membawa Kabar Kemerdekaan Menyeberangi Laut Jawa
Setelah rangkaian kegiatan di Jakarta, Hamidhan bersiap kembali ke Kalimantan.
Pada 24 Agustus 1945, Hamidhan kembali ke Kalimantan menggunakan pesawat Jepang bersama adiknya, A.A. Rivai.
Ia tidak sekadar pulang ke tanah kelahiran.
Ada sebuah kabar besar yang dibawanya: Indonesia telah merdeka.
Masalahnya, situasi belum sepenuhnya aman. Jepang masih memiliki kendali atas berbagai saluran komunikasi dan berusaha mempertahankan pengaruhnya setelah menyerah kepada Sekutu.
Sejumlah sumber sejarah mencatat bahwa informasi Proklamasi di Kalimantan memang menghadapi hambatan sensor dan pengawasan Jepang.
Karena itu, membawa berita kemerdekaan dari Jakarta ke Kalimantan bukan perkara sederhana.
Sesampainya di Kalsel, informasi mengenai Proklamasi kemudian bergerak melalui berbagai jalur.
Radio menjadi salah satu sarana awal. Di Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS) misalnya, berita kemerdekaan disebut berhasil ditangkap melalui siaran radio yang kemudian disebarkan secara terbatas di kalangan tokoh-tokoh perjuangan.
Surat kabar juga memainkan peran penting.