Kisah Hamidhan Sebarkan Kabar Kemerdekaan di Kalimantan, Berjuang Lawan Sensor Jepang
Borneo Simboen, yang sebelumnya diterbitkan di bawah pengawasan Jepang, kemudian turut memuat informasi mengenai kemerdekaan, Undang-Undang Dasar 1945, serta pengangkatan Pangeran Mohammad Noor sebagai gubernur Kalimantan.
Dengan demikian, media yang sebelumnya berada dalam sistem pendudukan justru menjadi salah satu saluran yang membantu memperluas kabar mengenai Republik yang baru berdiri.
Sejumlah catatan menyebut berita Proklamasi kemudian semakin terbuka diketahui masyarakat Banjarmasin pada akhir Agustus 1945. Setelah kabar itu menyebar, Merah Putih mulai dikibarkan sebagai simbol kemerdekaan.
Kabar kemerdekaan tidak berhenti di halaman surat kabar.
Informasi tersebut kemudian menyebar dari satu orang ke orang lain. Pamflet mengenai kemerdekaan ditempel di berbagai tempat dan para pemuda ikut mengambil peran dalam menyebarluaskannya.
Hamidhan pun kemudian terhubung dengan gerakan perjuangan di Kalsel.
Pada 30 Oktober 1945, ia bertemu dengan Hasan Basry.
Dalam perkembangan berikutnya, Hamidhan ikut membantu penyebaran informasi perjuangan melalui pamflet ke sejumlah wilayah, sementara Hasan Basry membangun kekuatan perjuangan di provinsi ini.
Di titik ini, peran Hamidhan sebagai wartawan bertemu dengan perannya sebagai pejuang.
Ia tidak mengangkat senjata di medan pertempuran, tetapi membawa sesuatu yang tidak kalah penting pada masa itu: informasi.
Sebab bagi rakyat yang masih berada di bawah bayang-bayang pendudukan, mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka merupakan langkah awal untuk berani menyatakan bahwa kemerdekaan itu benar-benar milik mereka.
A.A. Hamidhan kemudian dikenang sebagai salah satu perintis pers di Kalimantan.
Kiprahnya bahkan telah didokumentasikan dalam buku biografi yang diterbitkan Museum Perumusan Naskah Proklamasi serta karya sejarah mengenai pers di Kalimantan.
Ia meninggal dunia pada 21 Agustus 1997.
Pengabdiannya kemudian mendapat penghargaan negara. Pada 1992, pemerintah menganugerahkan Bintang Mahaputera Pratama kepada Hamidhan atas jasanya.
Kisah Hamidhan mengingatkan bahwa perjalanan berita kemerdekaan ke berbagai penjuru Indonesia memiliki cerita masing-masing.
Di Kalsel cerita itu memiliki satu nama penting: A.A. Hamidhan.