AI Berhasil Ciptakan Virus Biologis untuk Menginfeksi Bakteri E Coli
Proses seleksi kandidat virus buatan Evo ini terbilang sangat ketat. Menurut laporan New York Times, Evo awalnya menghasilkan sekitar 700.000 kemungkinan genom.
Dari jumlah sebesar itu, peneliti menyaring dan memilih sekitar 300 kandidat untuk benar-benar dibuat secara fisik di laboratorium.
Setelah disintesis jadi rantai DNA sungguhan dan dicampurkan dengan bakteri E coli, cuma 16 dari 302 kandidat yang terbukti jadi virus fungsional (viable).
virus tersebut benar-benar bisa menginfeksi dan menyebar ke bakteri lain.
Angka keberhasilan ini terdengar kecil. Namun menurut para peneliti, ini jadi bukti nyata bahwa AI generatif sudah bisa merancang genom virus fungsional dari nol, bukan sekadar meniru pola virus yang sudah ada.
Samuel King, mahasiswa pascasarjana Stanford yang jadi salah satu penulis studi ini, menjelaskan alasan tim memilih virus sebagai target eksperimen.
"Rasanya seperti langkah selanjutnya yang paling masuk akal," kata King.
Alasannya, struktur genetik virus jauh lebih sederhana dibanding genom manusia yang jauh lebih kompleks.
Yang jadi sorotan khusus dari hasil eksperimen ini, sejumlah virus buatan Evo justru menunjukkan performa yang lebih agresif dibanding virus ΦX174 asli.
Saat diuji di cawan petri, beberapa virus hasil rancangan AI ini berkembang biak lebih cepat dari virus aslinya.
Virus tersebut menyerbu keluar dari sel inangnya dan meninggalkan bakteri yang sudah mati di belakang mereka.
Sebagian virus buatan AI ini bahkan terbukti mampu mengatasi resistansi di dua strain bakteri E coli.
Ini menunjukkan hasil rancangan Evo bukan sekadar tiruan kasar dari virus alami, melainkan varian baru dengan karakteristik genetik yang benar-benar berbeda.
Meski terdengar mengkhawatirkan, temuan ini sebenarnya membawa potensi besar bagi dunia medis.
Menurut para peneliti, teknologi ini membuka jalan untuk menciptakan phage therapy yang adaptif dan tangguh, untuk melawan patogen yang terus berevolusi dengan cepat.