China Targetkan Matahari Buatan Mereka Akan ‘Bersinar’ di 2030
WARTABANJAR.COM - Proyek reaktor fusi nuklir Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) atau yang dijuluki sebagai "matahari buatan" milik China, terus mencatat perkembangan penting.
Setelah sebelumnya berhasil mengembangkan seluruh teknologi inti reaktor secara mandiri, kini China mengumumkan target baru yang lebih ambisius, yakni menghasilkan listrik pertama dari energi fusi (proses menggabungkan atom seperti yang terjadi di Matahari) sekitar tahun 2030.
Target tersebut disampaikan setelah dua magnet superkonduktor utama untuk reaktor fusi, berhasil menyelesaikan uji teknis dan uji beban penuh.
Kedua komponen tersebut merupakan bagian penting dari proyek reaktor fusi generasi berikutnya, yang dikembangkan Chinese Academy of Sciences (CAS).
Keberhasilan ini juga menandai bahwa seluruh teknologi inti proyek telah berhasil dilokalisasi atau diproduksi sepenuhnya di dalam negeri.
Reaktor fusi eksperimental berukuran compact yang memanfaatkan magnet tersebut, dijadwalkan rampung paling cepat pada akhir 2027.
Apabila seluruh tahapan pengujian berjalan sesuai rencana, fasilitas itu akan menjadi dasar demonstrasi pembangkit listrik tenaga fusi pertama China sekitar tahun 2030.
Baca Juga: WhatsApp Tambah 3 Fitur Baru untuk Chat Grup, Terbaru Penyempurnaan Polling di WAG
Baca Juga: MySpace, Raja Medsos Era 2000-an Bersiap Bangkit Lagi
Wakil Direktur Institute of Plasma Physics (ASIPP), Qin Jinggang, mengatakan proyek pengembangan magnet tersebut dimulai sekitar 6 tahun lalu.
Saat itu tim peneliti diberi dua target utama, yaitu meningkatkan performa sekaligus memangkas biaya produksi.
Pada akhir Juni 2026 lalu, China akhirnya mengumumkan telah menyelesaikan pengembangan dua komponen superkonduktor utama yang menjadi "jantung" reaktor fusi sekaligus mencapai tingkat lokalisasi teknologi inti hingga 100 persen.
Terobosan terbaru pada sektor magnet superkonduktor, dinilai menjadi salah satu hambatan teknis terbesar, yang kini berhasil dilewati dalam perjalanan menuju pembangkit listrik tenaga fusi komersial.
Selain seluruh rantai pasok berhasil diproduksi di China, biaya material superkonduktor juga diklaim turun drastis.