Terapi fag sendiri adalah metode pengobatan memakai virus untuk membunuh bakteri berbahaya, alternatif dari antibiotik konvensional. 

Jordi García Ojalvo, profesor biologi sistem di Pompeu Fabra University, Barcelona, memberi komentar positif soal terobosan ini melalui Science Media Centre. 

Terobosan ini dianggap penting mengingat dunia medis sedang berpacu melawan meningkatnya resistansi obat pada berbagai kuman, termasuk bakteri E coli yang makin sulit diatasi antibiotik biasa.

Terobosan Evo ini menambah daftar panjang pencapaian AI di ranah sains murni belakangan ini. Sebelumnya, Claude Fable 5 milik Anthropic sudah memecahkan rumus Konjektur Jacobian yang terbuka selama 87 tahun.

Astra milik OpenAI juga baru saja memecahkan 10 masalah matematika dan ilmu komputer yang sudah mandek selama minimal satu dekade. 

Sekarang, AI telah merambah ke ranah biologi molekuler dan rekayasa genetika.

Pola yang muncul cukup jelas. Kemampuan AI generatif yang tadinya cuma dikenal untuk menghasilkan teks, gambar, atau kode program, sekarang mulai merambah ke ranah-ranah ilmiah yang jauh lebih sensitif dan berdampak langsung ke dunia nyata. (Wartabanjar.com)