Karhutla Hingga Malam, BPBD Kalsel Ungkap Asap Sempat Ganggu Penerbangan Bandara Syamsudin Noor
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengancam penerbangan di Kalimantan.
Di Bandara Haji Asan Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng, kabut asap sempat menunda penerbangan pesawat NAM Air tujuan Surabaya Provinsi Jawa Timur pada Rabu (5/8/2026) pukul 13.35 WIB selama tiga jam.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan pun sempat mendapat informasi adanya delay sejumlah penerbangan di Bandara Syamsudin Noor , Banjarbaru, akibat kebakaran lahan beberapa waktu lalu.
"Delay memang terjadi sekitar satu hari. Waktu itu kebakaran mulai sore sampai sekitar pukul 10 malam sehingga cukup menyulitkan penanganan di lapangan," kata Kasubid Kedaruratan sekaligus Manajer Posdalops-PB BPBD Kalsel Noor Jamaluddin kepada wartabanjar.com di kantornya, Jumat (7/8/2026).
Baca juga: Prakiraan Cuaca Kalsel Hari ini, Suhu Maksimum Capai 35 Derajat Celcius
Selama kejadian BPBD berkoordinasi dengan pihak bandara serta BPBD kabupaten/kota untuk mengamankan jalur penerbangan.
"Pengamanan ring 1 menjadi prioritas sehingga seluruh personel disiagakan di kawasan bandara," katanya.
Ia menjelaskan, sedikitnya terdapat tiga pos siaga yang tetap beroperasi selama penanganan karhutla, yakni di kawasan Sungai Lihum, Guntung Damar, dan pos pemantauan di sekitar bandara.
"Pos-pos tersebut masih berjalan sampai sekarang untuk memantau potensi kebakaran di sekitar bandara," ujarnya.
Noor Jamaluddin memastikan kondisi di sekitar Bandara Syamsudin Noor saat ini kondusif.
Meski demikian, BPBD tetap melakukan pemantauan mengingat cuaca kering masih berpotensi memicu kebakaran baru.
Baca juga: Diduga Terjebak Karhutla, Lansia Kobar Kalteng Ditemukan Menghitam di Kebun
Apabila kebakaran terjadi di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat, BPBD akan mengoptimalkan penanganan menggunakan helikopter water bombing.
"Kalau memang kondisinya memungkinkan dan diperlukan, biasanya kami menggunakan water bombing. Namun kemampuan helikopter juga terbatas karena kapasitas air dan jangkauan operasionalnya, sehingga penggunaannya disesuaikan dengan kondisi di lapangan," jelas Noor Jamaluddin.