WARTABANJAR.COM, BARABAI – Sebanyak 28 jemaah umrah asal Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan mengaku masih terlantar di Jeddah, Arab Saudi, sejak empat hari terakhir.

Mereka belum mendapatkan kepastian tiket kepulangan ke Indonesia, sementara biaya makan dan penginapan disebut sudah tidak lagi ditanggung oleh pihak travel.

Salah seorang jemaah, Tadil, mengatakan hingga Jumat (31/7/2026) pagi waktu Jeddah, kondisi rombongan masih memprihatinkan karena sebagian besar jamaah mulai kehabisan biaya hidup.

“Kami sudah empat hari berada di Jeddah tanpa dibiayai. Uang jamaah juga sudah hampir habis, sementara sampai hari ini belum ada kepastian tiket pulang,” ujarnya kepada Wartabanjar.com, Jumat (31/7/2026).

Menurut Tadil, rombongan yang masih tertahan berjumlah 38 jemaah, terdiri atas 28 jemaah asal Barabai dan 10 jemaah asal Tanjung.

Seluruhnya merupakan peserta perjalanan umrah melalui Syakira Tour.

Baca Juga Ombudsman Desak PT PLN Beri Kompensasi Warga Kalsel Terdampak Pemadaman

Baca Juga Penemuan Mayat di Kertak Hanyar Kabupaten Banjar, Jenis Kelamin Pria

Ia menceritakan, perjalanan umrah yang mereka jalani sejak awal telah mengalami beberapa kali penundaan.

Jadwal keberangkatan yang semula direncanakan pada 21 Juni 2026 bergeser berulang kali karena alasan overbook tiket dan belum terbitnya visa akibat regulasi baru.

Para jemaah kemudian diberangkatkan ke Jakarta pada 10 Juli 2026 untuk menunggu kepastian keberangkatan.

Namun mereka masih harus menunggu sekitar sepekan sebelum akhirnya memperoleh tiket menuju Arab Saudi pada 18 Juli 2026.

“Setelah beberapa hari di Makkah dan Madinah, kami dipindahkan ke Jeddah untuk persiapan pulang. Tetapi sejak Senin (27/7/2026) sampai hari ini kami masih tertahan di sini,” katanya.

Tadil menjelaskan, rombongan asal Tanjung yang semula mengambil paket perjalanan 16 hari akhirnya digabung dengan rombongan Barabai yang mengambil paket 12 hari karena penyesuaian jadwal keberangkatan.

Saat itu pihak travel disebut menjanjikan pengembalian dana atas selisih masa perjalanan.

Selama berada di Jeddah, para jemaah mengaku telah berulang kali meminta bantuan kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) maupun pihak terkait.